Sudah , sudah kumaafkan
meski kau tak pernah memintanya ...
Jiwaku bagai karang
yang menunggumu di batas kesunyian . Bisu yang kau beri bukanlah sebuah
kepastian , hanya kata yang kuharap pada sebuah kebisuan yang kau goreskan di
latar hidupku . Rindu itu kini bagai lawan yang menyudutkan arah pikirku , menggenggam
akal ku di pelabuhan tak berujung . Perih ini tenggelam bersama derasnya rasa
yang mengalir di dasar hatiku . Peluhku tak dapat terbendung , menghancurkan
segalanya menjadi puing-puing harapan yang tak mungkin kau rasa , yang tak
mungkin kau dengar suaranya , yang tak mungkin kau lihat meski hanya dengan
waktu yang teramat singkat .
Anganku adalah sebuah
kepastian , namun kau adalah suatu keajaiban bila Tuhan menggariskan jalanmu
bersama dengan sosok karang yang selalu menantimu di batas kesunyian . Gelap
terasa begitu pekat saat kau menepis rasa yang tersimpan di relungku , tak
mampu ku berdiri tegap melawan arus khayalan yang tak pernah lepas dari
bayangmu .
Cahaya yang dulu
menunjukanku kemana arah hidup yang pasti , kini hanyalah sebuah ilusi yang tak
pasti . Duka ini begitu lara saat melati tak lagi memiliki aroma dan keindahan
, sakit itu begitu terasa ketika bintang tak mampu lagi bersinar . Hanyalah
tanya yang kuharap pada sosok rindu yang mengajarkanku untuk pergi dan tetap
berlari , menjauh dari sepenggal kisah yang tertinggal di deretan ruang sepi
tak berpenghuni .

Comments
Post a Comment