Terendap Laraku di September 2013



Sudah , sudah kumaafkan meski kau tak pernah memintanya ...
Jiwaku bagai karang yang menunggumu di batas kesunyian . Bisu yang kau beri bukanlah sebuah kepastian , hanya kata yang kuharap pada sebuah kebisuan yang kau goreskan di latar hidupku . Rindu itu kini bagai lawan yang menyudutkan arah pikirku , menggenggam akal ku di pelabuhan tak berujung . Perih ini tenggelam bersama derasnya rasa yang mengalir di dasar hatiku . Peluhku tak dapat terbendung , menghancurkan segalanya menjadi puing-puing harapan yang tak mungkin kau rasa , yang tak mungkin kau dengar suaranya , yang tak mungkin kau lihat meski hanya dengan waktu yang teramat singkat .
Anganku adalah sebuah kepastian , namun kau adalah suatu keajaiban bila Tuhan menggariskan jalanmu bersama dengan sosok karang yang selalu menantimu di batas kesunyian . Gelap terasa begitu pekat saat kau menepis rasa yang tersimpan di relungku , tak mampu ku berdiri tegap melawan arus khayalan yang tak pernah lepas dari bayangmu .
Cahaya yang dulu menunjukanku kemana arah hidup yang pasti , kini hanyalah sebuah ilusi yang tak pasti . Duka ini begitu lara saat melati tak lagi memiliki aroma dan keindahan , sakit itu begitu terasa ketika bintang tak mampu lagi bersinar . Hanyalah tanya yang kuharap pada sosok rindu yang mengajarkanku untuk pergi dan tetap berlari , menjauh dari sepenggal kisah yang tertinggal di deretan ruang sepi tak berpenghuni .

Comments