“Pemimpin Idola “
(Bagian I)
Semua sudah tahu kan dengan sosok
pemimpin Islam yang menjadi Khalifah kedua ? Dialah Umar bin Khattab r.a. Umar
bin Khattab ini masuk dalam Islam berkat hidayah dari Allah yang pertama, yang
kedua berkat doa Rasulullah SAW dan yang ketiga berkat adiknya Fatimah yang
terlebih dulu menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW berkat lantunan ayat suci
Al-Qur'an yang dibacanya.
Doa Rasulullah kala itu adalah,
“Semoga Allah memberi kejayaan pada Islam
dengan masuknya Umar ke dalam Islam."
Dan Allah SWT pun mengabulkan doa
tersebut.
Kembali ke pokok cerita, antara Khalifah
Umar dan rakyat. Umar adalah sosok pemimpin teladan yang sangat mengerti
kepentingan rakyatnya. Padahal ia sendiri hidup dalam kondisi sangat sederhana.
Pada suatu malam, sudah menjadi
kebiasaan bahwa Khalifah Umar bin Khattab sering berkeliling mengunjungi,
menginvestigasi kondisi rakyatnya dari dekat.
Nah,
pada suatu malam itu, ia menjumpai sebuah gubuk kecil yang dari dalam terdengar
suara tangis anak-anak. Ia pun mendekat dan mencoba untuk memperhatikan dengan
seksama keadaan gubuk itu.
Dialog Umar bin Khattab
dengan seorang Ibu.
Ternyata
dalam gubuk itu terlihat seorang ibu yang sedang memasak, dan dikelilingi oleh
anak-anaknya yang masih kecil.
Si
ibu berkata kepada anak-anaknya,
"Tunggulah...! Sebentar lagi makanannya matang."
Sang
Khalifah memperhatikan dari luar, si ibu terus menerus menenangkan anak-anaknya
dan mengulangi perkataannya bahwa makanan yang dimasaknya akan segera matang.
Sang
Khalifah menjadi sangat penasaran, karena yang dimask oleh ibu itu tidak
kunjung matang, padahal sudah lama dia memasaknya.
Akhirnya
Khalifah Umar memutuskan untuk menemui ibu itu,
"Mengapa anak-anakmu tidak juga berhenti menangis,
Bu..?" tanya Sang Khalifah.
"Mereka sangat lapar," jawab si ibu.
"Kenapa tidak cepat engkau berikan makanan yang dimasak
dari tadi itu?" tanya Khalifah.
"Kami tidak ada makanan. Periuk yang dari tadi aku masak hanya
berisi batu untuk mendiamkan mereka. Biarlah mereka berfikir bahwa periuk itu
berisi makanan, dengan begitu mereka akan berhenti menangis karena kelelahan
dan tertidur." jawab si ibu.
Setelah
mendengar jawab si ibu, hati sang Kahlifah Umar bin Khattab serasa teriris.
Kemudian
Khalifah bertanya lagi,
"Apakah ibu sering berbuat demikian setiap hari?"
"Iya, saya sudah tidak memiliki keluarga atau pun suami tempat
saya bergantung, saya sebatang kara...," jawab si ibu.
Hati
dari sang Khalifah laksana mau copot dari tubuh mendengar penuturan itu, hati
terasa teriris-iris oleh sebilah pisau yang tajam.
"Mengapa ibu tidak meminta pertolongan kepada Khalifah
supaya ia dapat meolong dengan bantuan uang dari Baitul Mal?"
tanya sang khalifah lagi.
"Ia telah zalim kepada saya...,"
jawab si ibu.
"Zalim....," kata sang khalifah
dengan sedihnya.
"Iya, saya sangat menyesalkan pemerintahannya. Seharusnya ia
melihat kondisi rakyatnya. Siapa tahu ada banyak orang yang senasib dengan
saya!" kata si ibu.
Khalifah
Umar bin Khattab kemudian berdiridan berkata,
"Tunggulah sebenatar Bu ya. Saya akan segera kembali."
Di malam yang semakin larut dan hembusan
angin terasa kencang menusuk, Sang Khalifah segera bergegas menuju Baitul Mal
di Madinah. Ia segera mengangkat sekarung gandum yang besar di pundaknya
ditemani oleh sahabatnya Ibnu Abbas. Sahabatnya membawa minyak samin untuk
memasak.
Jarak antara Madinah dengan rumah ibu
itu terbilang jauh, hingga membuat keringat bercucuran dengan derasnya dari
tubuh Umar. Melihat hal ini, Abbas berniat untuk menggantikan Umar untuk
mengangkat karung yang dibawanya itu, tapi Umar menolak sambil berkata,
"Tidak akan aku biarkan engkau membawa dosa-dosaku di
akhirat kelak. Biarkan aku bawa karung besar ini karena aku merasa sudah begitu
bersalah atas apa yang terjadi pada ibu dan anak-anaknya itu."
Beberapa lama kemudian sampailah
Khalifah dan Abbas di gubuk ibu itu. Begitu sekarung gandum dan minyak samin
itu diserahkan, bukan main gembiranya mereka. Setelah itu, Umar berpesan agar
ibu itu datang menemui Khalifah keesokan harinya untuk mendaftarkan dirinya dan
anak-anaknya di Baitul Mal.
Setelah keesokan harinya, ibu dan
anak-anaknya pergi untuk menemui Khalifah. Dan betapa sangat terkejutnya si ibu
begitu menyaksikan bahwa lelaki yang telah menolongnya tadi malam adalah
Khalifahnya sendiri, Khalifah Umar bin Khattab. Segera saja si ibu minta maaf
atas kekeliruannya yang telah menilai bahwa khalifahnya zalim terhadapnya.
Namun Sang Khalifah tetap mengaku bahwa dirinyalah yang telah bersalah.
Nah itu gambaran Umar sang Khalifah saat dia menjadi seorang pemimpin . Blusukan bukan hanya sekedar blusukan tapi disertai keikhlasan hati dan bukti yang nyata untuk mensejahterakan rakyat . Sederhana bukan hanya sederhana karena untuk menarik perhatian rakyat agar dijadikan pemimpin , tapi karena memang beliau adalah orang yang sederhana sehingga ibu itu pun tidak tahu bahwa dia adlah pemimpin saat itu . Haruskah seroang pamimpin pamer bahwa dia adalah pemimpin atau calon pemimpin ?
(Lanjut ke bagian II)
Wassalamualaikum.

Comments
Post a Comment