![]() |
| Sumber Gambar |
R.A Kartini adalah
Putri Bupati Jepara bernama Raden Mas Adipati Aria (R.M.A.A) Sosroningrat yang
lahir di Mayong pada 21 April 1879 . Dilihat dari silsilahnya , Kartini masih
keturunan raja terakhir Majapahit yakni Browijoyo . Beliau adalah
seorang wanita yang mendapatkan kesempatan untuk belajar di sekolah dasar
selama enam tahun , tetapi sayangnya ketika beliau ingin melanjutkan sekolahnya
,keluarga besarnya menolak dengan alasan dia adalah seorang perempuan yang
tidak boleh sekolah tinggi-tinggi dan menurut adat Jawa juga seorang wanita
harus dipingit dan menunggu untuk kemudian dijadikan istri (Raden Ayu) oleh
sesama bangsawan . Adat Jawa yang seolah-olah mengekang kaum perempuan dan
jajahan bangsa Eropa ini menjadikan Kartini berpikir tentang nasib orang-orang
Jawa .
Dengan pemikirannya
yang cerdas , kritis , dan rasional Kartini berpikir bahwa hak wanita itu
kurang di hargai pada saat itu . Dan selama ia dipingit hal itu bukan menjadi
penghalang bagi Kartini untuk terus berjuang memperjuangkan hak nya , hak
sebagai seorang wanita . Selama dalam pingitan Kartini pun tetap berkomunikasi
dengan dunia luar , tetapi tidak komunikasi secara langsung , melainkan
menggunakan surat , seperti misalnya kedekatannya dengan Abendanon dari Belanda
. Setelah surat-surat Kartini terpublikasi justru menghebohkan masyarakat dunia
, karena mampu menginspirasi para wanita , bahkan seluruh lapisan pun
terinspirasi oleh semangat juang dan semangat kebangsaannya .
Kami telah mendapat
banyak pengikut , Angkatan muda kita telah mendukung sepenuhnya . ‘Jong Java’
akan membangun persatuan , dan sudah tentu kami menggabung . O, Bunda harus
membaca surat-surat dari pejoang-pejoang kami yang bersemangat itu :
orang-orang muda yang kelak akan bekerja di tengah-tengah bangsanya. Mereka
bersorak-sorak bersama kami . Mereka menamakan saya : ‘Ayunda’ . Saya menjadi
kakak mereka , pada siapa mereka setiap waktu dapat datang kalau mereka
memerlukan bantuan atau pelipur hati ....... (Surat Kartini , dalam
Sitisoemandari, 1986:335)
Sejak
dalam penulisan surat itu terlihat adanya benih-benih kesadaran nasional ,
Kartini sudah menyebut kata “bangsa” , padahal waktu itu belum masuk zaman
kemerdekaan dan bahkan nusantara masih dibawah jajahan Belanda . Tetapi dengan
pemikirannya yang cerdas , kritis , dan rasional R.A Kartini mampu berpikir sejauh
itu , mampu berpikir bahwa Jawa adalah sebuah bangsa dan bahkan nusantara adalah
sebuah bangsa yang seharusnya berdiri sendiri tanpa adanya kekuasaan penjajah .
Dari surat itu juga terlihat bahwa semangat jiwa muda yang ada dalam diri
Kartini sangat menggebu , bahkan dia sudah membangun suatu komunitas pemuda di
Jawa yang dia namakan ‘Jong Java’ , mereka para jiwa muda yang masih memiliki
semangat tinggi yang bekerja di tengah-tengah bangsanya , artinya para pemuda
yang berjuang meraih kemerdekaan bagi bangsanya .
Amat banyak lagi yang harus
diperjuangkan dalam diri sendiri dan banyak pula lagi perjuangan lain yang
harus diselesaikan , barulah berbagai-bagai pendirian dan dasar hidup yang
sudah kolot itu , yang tiada sepadan lagi dengan zaman , terkubur dalam-dalam
di dalam tanah , sehingga tiada akan bangun-bangun lagi (Surat Kepada Nyonya
Van Kol , 19 Agustus 1901)
Kesadaran nasional itu
memang sudah terpikirkan oleh Kartini jauh sebelum berdirinya Budi Utomo ,
tepatnya sejak berdirinya Jong Java . Dari surat di atas terlihat bahwa
semangat perjuangan Kartini untuk menegakkan sebuah bangsa yang mandiri memang
sangat tinggi . Pandangan Kartini tentang Jawa sebagai sebuah bangsa termasuk
salah satu pemikiran Kartini yang melahirkan benih-benih kesadaran nasional ,
meskipun awalnya hanya untuk bangsa Jawa , tetapi justru pemikiran Kartini yang
mendorongnya untuk berjuang . Kartini bukan hanya berjuang untuk kemajuan kaum
wanita , tetapi juga berjuang untuk Nusantara , seperti misalnya keinginan
Kartini untuk mendidik kaum pribumi karena kartini menganggap bahwa pendidikan
itu sangat penting .
Kesadaran nasional dalam diri
Kartini juga diakibatkan karena keadaan sekitarnya , yakni penindasan terhadap
pribumi oleh para penjajah . Sehingga akhirnya Kartini berpikir bahwa bangsa
Jawa tidak boleh terus-menerus seperti itu , harus ada yang memulai pergerakan
untuk kemajuan bangsa Jawa itu sendiri . Seperti yang tertulis dalam salah satu
surat Kartini untuk Stella yaitu :
Bukan hanya
suara-suara dari luar , dari Eropa yang sampai kepada saya yang menyebabkan
saya ingin merobah keadaan sekarang ini. Sejak saya masih kanak-kanak , pada
waktu kata ‘emansipasi’ belum mempuyai arti apa-apa bagi saya dan
tulisan-tulisan mengenai itu masih jauh di luar jangkauan saya , dalam hati
saya sudah timbul keinginan yang kian lama kian besar : keinginan kepada
kemerdekaan , kebebasan dan untuk berdiri sendiri . Keadan-keadaan di sekitar
saya , yang menghancurkan hati saya dan membuat saya menangis dalam kesedihan
yang tak terhingga , telah membangkitkan keinginan itu .
Keinginan kepada
kemerdekaan dan kebebasan , kata-kata inilah yang bukan hanya menjadi
angan-angan dalam benak Kartini , tetapi Kartini berpikir bahwa ini adalah
sebuah cita-cita yang harus terealisasikan dan bukan hanya sekedar angan belaka
. Dengan segenap potensi dan kemampuan yang bisa dia lakukan , Kartini
melakukan pergerakan . Pemikiran Kartini yang akhirnya menjadi sebuah
pergerakan ini tidak terlepas dari pengaruh bacaan-bacaan yang dituliskan oleh
para penulis Barat. Besarnya pengaruh sebuah tulisan dan media massa atau pers
yang mampu mengubah pemikiran seseorang hingga memunculkan kesadaran nasional
dalam diri Kartini yang pada akhirnya mengawali sebuah perjuangan bangsa untuk
bergerak menuju kemerdekaan .
Memang
banyak sekali rintangan yang harus dihadapi oleh Kartini , tetapi beliau tidak pernah menyerah .
Kartini juga sering menulis surat-surat dan nota kepada petinggi-petinggi pemerintah
Belanda di Jawa. Beliau juga sering meminta kepada mereka untuk memberikan
pendidikan bagi kaum pribumi , tetapi mereka seolah tidak memperdulikan .
Bahkan ketika Kartini ingin melanjutkan pendidikan ke belanda untuk mencari
pengalaman dan memperoleh pendidikan yang lebih baik di Eropa , orang yang
selama ini sangat dekat dengannya pun yaitu Abandanon seolah menghalanginya
untuk pergi dan belajar di Belanda. Jelas saja Kartini merasa sangat kecewa .
Pada akhirnya Kartini
dipanggil oleh Yang Maha Kuasa dan mengakhiri perjalanan hidupnya di dunia .
Akan tetapi semangatnya justru menginspirasi orang banyak dan setelah
surat-suratnya di kumpulkan dan kemudian di terbitkan , banyak orang-orang yang
menyukai , bahkan buku itu diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa . Meskipun
cita-citanya tidak terealisasi semua , tetapi setelah beliau wafat justru
dengan pemikirannya orang-orang merealisasikan apa yang beliau cita-citakan ,
seperti misalnya Dewi Sartika yang mendirikan sekolah . Dengan pemikirannya
pula lahir kesadaran nasionalisme berbangsa dan hidup merdeka bagi pribumi .
Sumber Surat-Surat
:
Soeroto , Sitisoemandri . Kartini Sebuah Biografi . Jakarta :
PT.Gunung Agung , 1982 (Merujuk pada
buku Pramoedya Ananta Toer berjudul Panggil
Aku Kartini Saja , Abendanon berjudul Door
Duisternis tot Licht , Armijn Pane berjudul
Habis Gelap Terbitlah Terang ,
dll)
Arbaningsih , Dri . Kartini dari Sisi Lain. Jakarta : Penerbit Buku Kompas , Juli 2005

Comments
Post a Comment