Masihkah Memandang Sejarah Sebelah Mata ?

By: Galina Sophia Rizky


Akan saya awali tulisan kali ini dengan sebuah pertanyaan ,

" Apakah Anda termasuk orang yang cerdas otak , tetapi tidak cerdas emosi dan sosial ?"

Jika jawabannya adalah 'YA' , maka selamat Anda hanya mendapatkan satu dari beribu-ribu hal yang ada di dunia ini . Sangat disayangkan sekali ketika seseorang hanya mengetahui sesuatu tanpa tahu asal dan bagaimana sesuatu it dapat terjadi. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa manusia adalah makhluk sosial . Lalu mengapa kita tidak hanya membutuhkan kecerdasan otak , tetapi juga membutuhkan kecerdasan emosi dan sosial ? Maka jawaban yang dapat saya berikan adalah , ketika otak seseorang memiliki kecerdasan , tanpa pengendalian emosi dan tidak memiliki kecerdasan emosi , mungkin saja kecerdasannya itu justru akan membahayakan dirinya sendiri entah dalam bentuk apapun . 

Seorang ilmuwan tanpa kecerdasan emosi , mungkin saja ketika dia mengalami kegagalan saat percobaan dia akan menghancurkan barang-barang yang ada , sehingga dampaknya akan berakibat buruk pada dirinya sendiri . Bagaimana dengan kecerdasan sosial ? Ketika seseorang yang memiliki kecerdasan otak tanpa kecerdasan sosial , maka dia tidak akan tahu apa yang terjadi di sekelilingnya , layaknya orang hidup secara fisik , tapi dia mati secara sosial . Bahkan seseorang sulit untuk bersosialisasi dengan orang lain. 

Saya jadi teringat , seseorang pernah mengatakan kepada saya seperti ini "Kamu jangan pernah mengikuti atau mempercayai sesuatu tanpa tahu ilmunya" . Baiklah 'ilmu' itu bagi saya sangat luas cakupannya , lantas ilmu yang mana ? Sepengetahuan saya ilmu itu ada sejak dahulu kala , jauh sebelum saya diciptakan di dunia ini , ilmu itu sudah ada sejak zaman Nabi Adam . Kesimpulannya ketika kita mempelajari atau mempercayai sesuatu dengan mengetahui ilmunya , ilmu yang mana ?  Menurut saya sesuatu harus ditinjau dari Ilmu asal muasal .


Lantas kenapa harus ilmu asal muasal ? Atau sekarang bahasa ngetrend nya adalah sejarah , atau dalam bahasa Yunani adalah Historia. Tadi saya sudah sedikit mengulas tentang kecerdasan emosi dan sosial . Maka dalam menganalisis sesuatu kita membutuhkan ketiganya , kecerdasan otak , emosi , dan sosial. Kembali ke pokok permasalahan . Kenapa harus ilmu sejarah ? Saya ambil contoh kasus yang baru saja terjadi yakni peringatan hari Ibu setiap tanggal 22 Desember . Masyarakat umum memaknai hari ibu itu adalah hari kasih sayang atau penghormatan terhadap ibu , seorang perempuan yang telah melahirkannya . Banyak juga yang berkata bahwa hari ibu itu tidak pantas untuk umat islam , itu sebenarnya adalah penyembahan terhadap ibu para dewa di Eropa . Sebaiknya kita jangan melihat sesuatu hanya dari satu sudut pandang , bahwa sebenarnya makna hari ibu di Indonesia dan yang di Eropa itu berbeda - untuk lebih jelas perbedaannya ada di tulisan saya yang berjudul Perlu Diketahui , Hari Ibu atau Mother's Day ? , bila ingin mengetahui lebih lanjut silahkan di klik-. Jadi kita seharusnya melihat sebenarnya bagaimana asal muasalnya sehingga bisa seperti itu . 

Pertama kita harus melihat bagaimana sesuatu itu terjadi , dan kenapa . Lalu apa yang terjadi saat itu dan bagaimana perkembangannya , tapi yang lebih penting adalah analisis , sehingga diharapkan untuk tidak menjudge sesuatu itu hanya dari satu sudut pandang . Maka dari itu , bukankah sejarah itu sangat diperlukan ? Bukankah untuk menilai sesuatu itu kita memerlukan sejarah ? Bayangkan saja , matematika tidak akan ada tanpa sejarah , bahasa tak akan ada tanpa sejarah , dari mana itu semua ada ? Dari mana semua hal yang saat ini ada itu muncul ? Bukankah dari masa lalu ? Kita hanya generasi pelanjut saja . Bukankah matematika tak akan ada tanpa tokoh-tokoh matematika saat dulu ? Lantas apakah ilmu kedokteran itu tiba-tiba ada saat ini dan hanya ada saat ini ? Tentu tidak !! Ilmu kedokteran sudah ada sejak dulu dan terus dipelajari dan dikembangkan hingga saat ini , bukankah itu sejarah ? Apa hal yang tidak ada dalam sejarah ? Bahkan Pemilu 2014 yang lalu pun saat ini sudah menjadi sejarah , dan akan menjadi sejarah di masa depan. Semua sudah lengkap ada dalam sejarah . Lantas masih memandang sejarah sebelah mata ? 

Apa sih sejarah ? Kita ga butuh sejarah , kalau kita belajar sejarah berarti gak bisa move on , jurusan sejarah mau jadi apa ? Jurusan yang kurang diminati dan tidak favorit . Mungkin seperti itulah pandangan orang awam terhadap ilmu sejarah , tapi andaikan kita buka mata lebar-lebar , apakah Pemilu 2014 akan ada tanpa pemilu pertama 1955 ? Apakah pulau yang memanjang dari sabang sampai merauke akan menjadi Indonesia tanpa semangat nasionalisme yang saat ini sudah menjadi sejarah ? Bukankah kita bisa belajar dari sejarah ketika kekacauan politik terjadi di Indonesia? Karena tidak dapat dipungkiri bahwa sejarah itu pola nya berulang. Bukankah ilmu bumi dan ilmu alam pun ada sejak zaman dulu dan dipelajari hingga saat ini ? Bahkan tidakkah sadar bahwa sebagian besar isi kitab suci Al-Qur'an pun adalah sejarah yang akan menjadi sebuah pelajaran bagi umat yang akan datang ? 

Masalah prospek kerja untuk jurusan sejarah banyak memang yang mengatakan bahwa masa depan tidak cerah dan lulusan sejarah tidak jelas , siapa bilang ? Salah satu dosen saya bahkan mendapatkan penghasilan dari pengetahuan dan ilmu sejarahnya , bahkan dia seringkali ke luar negeri untuk melakukan penelitian . Yang lainnya ada juga yang seringkali mendapat proyek penelitian sejarah dan bayarannya juga saya yakin tidak sedikit . Bahkan ada juga yang memiliki perusahaan penerbitan buku , ada yang menjadi wartawan , penulis , bekerja di permuseuman , dan masih banyak lagi . Bahkan bisa saja bekerja di LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) sebagai peneliti. Ketika lulusan akuntansi menjadi seorang akuntan , lulusan politik menjadi politikus , bukankah lulusan sejarah akan ada juga yang menjadi seorang Sejarawan ? Tentu saja , jika kemampuannya memang baik .

Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang mengetahui sejarah bangsanya (Kang Dedi M). Mau jadi orang cerdas otaknya saja ? Atau cerdas otaknya , emosinya , dan juga sosialnya ? 

Lantas , masihkah memandang sejarah sebelah mata ?



Comments

  1. Vi daftar bibliografi nya jangan lupa dicantumin, ntar dikira plagiat

    ReplyDelete
  2. Makasih teh koreksinya :)
    Tapi tulisan yang ini opini sama pengalaman via teh , bingung mau cantumin apa , hehe

    ReplyDelete

Post a Comment