Puteri Bangsawan di Balik Perang Aceh


Perang terbesar yang tercatat dalam sejarah di Nusantara adalah perang yang terjadi sekitar 30 tahun lamanya , yakni perang Aceh . Perang ini terjadi kira-kira mulai tahun 1873 sampai 1904 dengan jumlah korban dan biaya yang amat besar , baik dari pihak Aceh maupun dari pihak Belanda . Rakyat Aceh tidak menerima jika wilayahnya dikuasai oleh pihak penjajah dalam hal ini adalah Belanda . Dari tanah Aceh terlahir seseorang yang memiliki kecerdikan , keteguhan iman , kesabaran , prinsip , serta semangat juang tinggi yang merupakan ‘otak’ dari perlawanan rakyat Aceh melawan Belanda .

Seorang puteri bangsawan yang terlahir untuk memperjuangkan hak kemerdekaan bangsa dan agamanya . Dia yang kita kenal sebagai pahlawan bangsa bernama Cut Nyak Din , Cut merupakan gelar yang diberikan untuk golongan bangsawan di Aceh serta Din berasal dari bahasa Arab yang berarti sistem , seorang puteri bangsawan yang memperjuangkan sebuah sistem islam. Di usia nya yang terhitung masih anak-anak , beliau dinikahkan oleh ayahnya dengan sesama bangsawan yakni Teuku Cik Ibrahim Lamnga yang akhirnya suaminya inilah yang akan memimpin perang Aceh. Cut Nyak Din adalah seorang istri yang setia dan senantiasa membangkitkan semangat juang untuk suami dan para pejuang Aceh saat itu.

Taktik perang yang digunakan oleh Teuku Cik Ibrahim ini tidak lepas dari gagasan-gagasan yang diberikan oleh Cut Nyak Din sehingga memperoleh kemenangan-kemenangan walau akhirnya Teuku Cik Ibrahim tewas karena dibunuh oleh Belanda . Kematian suaminya tidak sedikitpun mematahkan perjuangannya , hal ini semakin meningkatkan semangat juang Cut Nyak Din untuk melawan penjajah . Kemudian beliau memikirkan siapa yang akan memimpin perang melawan Belanda selanjutnya jika Teuku Cik Ibrahim meninggal , dan akhirnya datanglah Teuku Umar yang berjanji dan bersedia untuk memimpin perjuangan di Aceh , akhirnya mereka berdua dinikahkan .

Di tengah-tengah perjuangannya , Teuku Umar sempat berpihak kepada Belanda dan Cut Nyak Din mendapat sindiran dan cemoohan dari masyarakat maupun kerabatnya karena Teuku Umar suaminya dianggap penghianat , namun dengan kegigihan dan kesabarannya akhirnya beliau mampu mengembalikan Teuku Umar ke pihak pejuang Aceh meskipun itu adalah sesuatu yang sangat sulit . Dari hal ini dapat dilihat bahwa pemikiran dan kecerdikan Cut Nyak Din memiliki pengaruh yang besar . Seperti halnya Teuku Cik Ibrahim , Teuku Umar pun melakukan perlawanan dengan memperoleh gagasan serta taktik perang dari istrinya dan memperoleh banyak kemenangan pula meskipun akhirnya nasib mereka sama , Teuku Umar akhirnya juga gugur dibunuh oleh Belanda .

Sepeninggal Teuku Umar tidak pernah sedikitpun terlintas kata menyerah di benak Cut Nyak Din , kali ini dia sendiri yang memimpin perang melawan penjajah dan melakukan taktik perang mobil , yakni berpindah dari tempat satu ke tempat lainnya , hal ini mempersulit Belanda untuk menangkapnya . Setelah sekitar sepuluh tahun lamanya Cut Nyak Din bertakhta di hutan rimba karena bersembunyi , selama itu pula beliau yang selalu mengatur strategi perang hingga akhirnya itu membahayakan Belanda , alhasil mereka semakin giat memburu keberadaan Cut Nyak Din dan pada tahun 1904 Cut Nyak Din ditangkap dan di asingkan ke Sumedang lalu wafat pada 6 November 1908 .

Perjuangan yang tidak disertai prinsip dan keteguhan biasanya akan selesai ketika pemimpin perang telah gugur , namun hal ini berbeda dengan Cut Nyak Din , karena keteguhan iman beliau menempatkan Allah sebagai pemimpin yang sebenarnya , karena Allah tidak akan pernah mati sehingga perjuangan Cut Nyak Din pun tidak akan mati sampai akhirnya beliau yang turun langsung memimpin perang demi bangsa dan agama hingga akhir hayatnya. Atas jasa nya juga Aceh saat itu menjadi sulit ditaklukan Belanda , sehingga  dari hal ini terlihat bahwa beliau memiliki pengaruh yang amat besar bagi masyarakat dan para pejuang Aceh.

Comments