Fenomena Hallyu


(Sumber gambar : korea.panduanwisata.id)

Dunia memberikan kontribusi yang besar pada pengembangan karakter orang Korea yang unik. Selama ribuan tahun, Korea telah berinteraksi dengan budaya dominan benua Asia meskipun lokasinya jauh di ujung utara timur. Namun, sambil mengakomodasi agama dan tradisi besar daerah Asia lainnya, bangsa ini juga mengembangkan budaya yang benar-benar berbeda dalam banyak aspek, yang banyak orang menyebutnya sebagai “sentralisasi dari budaya Korea”.Di bawah pengaruh topografi ini, orang Korea mengembangkan karakter yang cinta damai namun dinamis.

Drama Korea berasal dari ritual keagamaan di masa pra-sejarah. Salah satu contoh menarik dari bentuk teater klasik Korea adalah tari topeng Sandaenori, gabungan tari, lagu dan cerita yang diselingi sindiran dan humor. Bentuk teater ini mendapat popularitas yang luar biasa di antara masyarakat pedesaan sampai awal abad ke-20 meskipun memiliki perbedaan dalam hal gaya , kostum, bahasa, dsb. Pansori dan ritual Shamanisme yang dikenal sebagai gut (dukun) adalah bentuk lain pertunjukan teater yang bersifat sakral, dan sangat menarik minat orang banyak. Film pertama yang dibuat Korea dipertontonkan ke masyarakat umum pada tahun 1919. Berjudul ”Righteous Revenge” (Pembalasan yang Adil), film  ini merupakan drama-film yang dikombinasikan dengan pertunjukan panggung. Setelah terjadinya Perang Korea pada tahun 1950, industri film lokal berkembang perlahan-lahan dan mengalami kesuksesan

Korea melakukan bisnis selama kira-kira satu dekade untuk mencapai perkembangan perekonomian. Namun pada dua dekade berikutnya industri film mengalami  stagnasi yang terutama disebabkan oleh pertumbuhan televisi yang sangat cepat. Walau demikian, sejak awal era 1980-an industri film telah memperoleh  kembali vitalitasnya, terutama berkat peran beberapa sutradara berbakat yang  berani membongkar stereotip lama dalam proses pembuatan film. Usaha-usaha mereka berhasil dan film-film mereka memperoleh pengakuan  pada festival-festival film internasional termasuk Cannes, Chicago, Berlin,Venice, London, Tokyo, Moscow dan festival-festival di kota-kota lainnya.

Hallyu atau gelombang budaya Korea bukan lagi sesuatu yang aneh di mata internasional. Awalnya Korea berhasil menyebarkan Hallyu ini ke daerah Jepang , kemudian mampu menembus Tiongkok , dan hingga akhirnya sampai ke Amerika Latin dan sebagian wilayah Afrika. Dan saat ini hampir seluruh dunia terkena Hallyu. Apalagi di Indonesia , Hallyu ini mendapat perhatian besar. Drama Korea yang pertama masuk ke Indonesia adalah Winter Sonata yang mampu menarik hati masyarakat Indonesia sebagai acara pilihan ketika bersantai. Akhirnya berdatanganlah drama-drama dan musik Korea di Indonesia.

Korea Selatan pernah mengalami krisis ekonomi dan bahkan menjadikan Korea Selatan menjadi negara yang miskin. Apalagi Korea Selatan pernah menjadi korban Nuklir dari Korea Utara akibat perang Korea yang menyebabkan semakin dinginnya hubungan antara Korea Utara dan Korea Selatan.Tetapi satu dekade setelah krisis, Korea mampu bangkit dan menjadi negara dengan perekonomian tinggi ke-13 di dunia. Bahkan saat ini Korea Selatan hampir sejajar dengan Jepang , Korea Selatan saat ini memiliki tujuan untuk mensejajarkan perekonomian mereka dengan Amerika.

Periode ekonomi Korea dibagi menjadi tiga tahapan. Tahapan pertama atau yang disebut Kim dan Jaffe sebagai Korea 1.0 sejak Park Chung Hee berkuasa pada awal 1960-an. Prestasi yang diraih adalah ketika itu Korea mampu membangun industri mobil dan perkapalan. Kemudian pada krisis 1998, ekonomi Korea Selatan memasuki era ke 2.0 , pada masa ini didominasi oleh industri-industri baru seperti hiburan , perangkat lunak, dan manufaktur peralatan telekomunikasi. Ini memperlihatkan kemajuan ekonomi Korea Selatan yang pesat , saat ini pendapatan per orang di Korea Selatan adalah $20.000 , hal ini menjadikan Korea sejajar dengan negara-negara industri Eropa dan hampir menyusul Jepang yang pendapatannya sekitar $38.000  bahkan membuka pintu untuk bersaing dengan Amerika.

Korea Selatan berhasil menghindari diri dari kesalahan yang pernah dilakukan Jepang, yakni menekankan pertumbuhan dan menekankan dukungan konglomerat multinasional. Sehingga Korea Selatan mampu meraih tingkat perekonomian yang diktakan maju. Selain itu ajaran Konfu juga sangat berperan dalam hal ini. Dimana ajaran dalam Konfu ini adalah setiap orang harus bekerja untuk kebaikan bangsa. Jam kerja orang-orang Korea Selatan lebih tinggi dari jam kerja di Amerika. Bahkan mereka menghabiskan sisa hidup mereka , makan , tidur , di tempat kerja. Inilah salah satu faktor yang membuat Korea Selatan mampu bangkit dari krisis tahun 1998. Selain itu mereka berkampanye menyebarkan budaya Korea yang akhirnya gelombang budaya Korea atau Hallyu ini menguasai dunia , landasannya adalah dengan media masa , belum lagi karena jaringan internet yang mudah menjadikan masyarakat lebih mudah mengakses segala hal tentang Korea. Pengaruh dari Hallyu ini adalah meningnkatkan PDB negara ginseng ini.

Referensi :  Tanpa Penulis. 1973. Korea : Dulu dan Sekarang. Seoul : Layanan Informasi dan Kebudayaan Korea.
          http:// edhy-aruman.blogspot.com

Comments