Selebgram sebagai Salah Satu Subjek Industri Budaya


 Fenomena yang terjadi di masyarakat Indonesia dan bahkan dunia saat ini adalah kemajuan di bidang teknologi, salah satunya adalah gadget. Saat ini akibat dari semakin kencangnya arus globalisasi dunia menyebabkan berbagai informasi dengan mudah menyebar karena semakin tingginya transparansi dari hampir seluruh negara di dunia. Penyebaran paling cepat adalah menggunakan teknologi, salah satunya adalah gadget dan khusunya adalah sosial media. Jarang ditemui orang yang tidak memiliki akun sosial media saat ini, smartphone menyebar dimana-mana rata-rata dari kalangan menengah ke atas, sehingga hal ini mempermudah pertukaran informasi secara global.
Berawal dari teori mazhab Frankfurt dimana mazhab ini berawal dari adanya teori Marx dan kemudian teori Marx juga melatarbelakangi teori industri budaya Adorno. Menurut Adorno dan Frankfurt, pembahasan Marx tentang fetisisme komoditas merupakan landasan teori bagaimana bentuk-bentuk budaya seperti musik pop bisa berfungsi mengamankan dominasi modal ekonomi, politis maupun ideologis yang berkelanjutan.
Menurut mazhab Frankfurt, industri budaya mencerminkan konsolidasi fetisisme komoditas, dominasi asas pertukaran dan meningkatnya kapitalisme monopoli negara. Industri budaya membentuk selera dan kecenderungan massa, sehingga mencetak kesadaran mereka dengan cara menanamkan keinginan mereka atas kebutuhan palsu. Adorno juga mendefinisikan apa yang dia maksud dengan konsep industri budaya, yakni pada semua cabangnya, produk-produk yang dihasilkan untuk konsumsi oleh massa, dan pada suatu takaran besar menentukan sifat konsumsi itu, yang dibuat kurang lebih sesuai dengan rencana.
            Berdasarkan teori inilah maka fenomena saat ini yang dikenal sebagai “selebgram” juga bisa termasuk dalam hal industri budaya. Adanya sebuah media sosial bernama instagram memunculkan pengguna-pengguna yang kreatif menjadi selebriti-selebriti baru yang terkenal dengan ciri khas masing-masing. Menariknya, instagram menyajikan tampilan berupa foto-foto yang biasanya diikuti dengan caption dari foto-foto yang diunggah tersebut.Inilah yang kemudian menjadikan instagram sebagai alat industri budaya dan juga para selebgram sebagai subjek industri budaya, dan tentu pengguna lain atau yang disebut dengan konsumen yang menjadi objek dari industri budaya.
            Banyak hal yang melatarbelakangi adanya selebgram, serta keuntungan dan kerugian yang didapatkan. Selebgram adalah singkatan dari selebriti instagram, seperti yang diketahui bahwa instagram merupakan salah satu jenis sosial media yang penggunanya sangat banyak dari berbagai belahan dunia. Instagram ini sebenarnya jika dilihat, merupakan wadah untuk berkreasi di bidang seni khususnya foto. Banyak fotografer yang memiliki akun instagram untuk berbagi dan memamerkan hasil karya mereka untuk dilihat oleh khalayak umum. Orang awam yang bukan fotografer pun banyak yang memiliki akun instagram untuk sekedar berbagi cerita dan pengalaman pribadi dengan foto melalui akun instagram.
            Saat ini bisa dibilang Indonesia, bahkan dunia sedang memasuki the era imagology, masa dimana citra lebih penting dari realitas sebenarnya. Selebriti termasuk orang-orang yang berusaha membangun citra diri di depan masyarakat dan di depan khalayak umum, serta menggunakan media sebagai alat pencitraan agar dengan mudah orang mengetahui siapa dia. Sehingga selebritis sendiri merupakan ciptaan media (Ibrahim, 1997:85). Hal ini juga menjadi suatu profesi dimana orang-orang yang memang sudah menjadi selebriti di media, kemudian memiliki akun instagram dan disitulah para selebriti bisa berinteraksi langsung dengan para fans nya, termasuk selebgram juga yakni orang-orang yang asalnya bukan selebriti media televisi, akan tetapi bisa terkenal dan memiliki banyak fans berkat akun instagram yang dia miliki.
            Adanya fenomena selebgram ini juga pada akhirnya menghasilkan sebuah kebiasaan para pengusaha online shop untuk kemudian memasarkan produknya lewat akun instagram para selebritis di media maupun selebriti instagram dengan sebutan yang saat ini juga sedang booming yakni endorse. Para selebgram biasanya diminta untuk endorse produk dan biasanya mereka juga menerima upah dari hasil endorse tersebut. Sehingg saat ini memang benar-benar sistem kapitalis sangat terlihat jelas, seseorang yang memiliki banyak followers atau sebutannya yakni selebgram, hanya berfoto saja dengan sebuah produk yang diendorse kemudian dia mendapatkan bayaran atau upah yang cukup besar, padahal jika dilihat kegiatannya memang sangat sederhana dan mudah, yakni hanya berfoto dengan suatu produk dan kemudian mengunggahnya ke instagram.
            Berdasarkan survey dari sepuluh akun instagram yang diperoleh, terdiri dari lima akun instagram selebriti yang sudah terkenal di media televisi, kemudian satu akun instagram seorang wartawan wanita Indonesia, satu akun salah seorang fotografer Indonesia, satu akun komedi, satu akun organisasi kalangan mahasiswa, dan akun instagram penulis. Semua akun ini pernah mengalami hal yang sama yakni salah satu atau beberapa foto disisipi oleh permintaan endorse dari online shop. Terutama akun instagram para selebriti televisi yang hampir setiap foto ada permintaan endorse dari pihak online shop.
            Berbeda dengan salah satu akun instagram, yakni seorang wartawan Indonesia yang terdapat foto-foto perjalanannya, sehingga secara tidak langsung para followers akun dia menikmati juga keindahan tempat-tempat yang dikunjungi, belum lagi kalau ada suatu kebudayaan yang tertangkap dalam foto tersebut akhirnya kebudayaan itu bisa tersebar luas. Kemudian akun lain bernama @instanusantara yang juga selain memamerkan keindahan Indonesia, juga terkadang memotret event kebudayaan dan adat–adat di Indonesia, sehingga secara tidak langsung para pengguna instagram lainnya mengetahui kebudayaan di wilayah lain di Indoensia itu seperti apa. Pada akhirnya kebudayaan Indonesia juga dapat tersebar lewat sebuah foto yang istilahnya bisa “dipasarkan” untuk menarik wisatawan.
            Kenyataannya, bukan hanya produk dari online shop saja yang bisa dipasarkan melalui endorse oleh para selebgram, tetapi kebudayaan dan juga berbagai kegiatan lainnya bisa dipasarkan juga melalui endorse, sebuah kegiatan yang saat ini sudah melekat pada jiwa para pengguna instagram. Menurut Adorno, industri budaya bersentuhan dengan kesalahan bukan dengan kebenaran. Jika dilihat, fenomena endorse melalui selebgram juga terkadang terlihat mengada-ada, mereka menampilkan foto dengan dua sisi berbeda, contohnya produk penghilang jerawat, di satu sisi terdapat foto kulit yang berjerawat banyak dan di sisi lain terdapat foto yang kulitnya mulus dan bagus, padahal jika dilihat jelas sekali bahwa terkadang foto itu merupakan hasil editan, tidak semuanya foto tersebut asli. Inilah kesalahan yang ditemukan, banyak konsumen percaya dan tergoda untuk membeli.

            Sehingga sebaiknya pergunakanlah seluruh akun media sosial itu secara baik dan berguna bagi orang lain yang melihat. Meskipun ingin mencoba berjualan di instagram, maka berjualanlah secara jujur dengan memperlihatkan keunggulan produk yang sebenarnya tanpa direkayasa. Media sosial terutama instagram juga saat ini banyak digunakan untuk keperluan komersil, termasuk memasarkan hasil kebudayaan. Selebgram merupakan subjek paling menarik untuk melakukan endorse sebuah produk yang kemudian termasuk dalam kategori industri budaya, maka sebagai konsumen yang baik bertindaklah selektif dalam membeli produk online dan sebagai pengguna yang baik, pergunakanlah akun media sosial instagram dengan sebaik-baiknya.




Daftar Sumber :
Strinati, Dominic.2011. Popular Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer. Jakarta: Bentang Pustaka.
Setiawan, Rudy. 2013. Jurnal: Kekuatan New Media dalam Pembentukan Budaya Populer di Indonesia. http://ejournal.ilkom.fisip-unmul.ac.id. (Akses pada 02 November 2015 pukul 00:19).
Hereyah, Yoyoh. 2011. Jurnal Media Massa: Pencipta Industri Budaya Pencerahan yang Menipu Massa: Studi Simulacra dan Hiperrealitas Film Avatar. http://library.umn.ac.id. (Akses pada 02 November 2015 pukul 00.20).
Luik, Jandy E. Media Sosial dan Presentasi Diri. http://repository.petra.ac.id (Akses pada 02 November 2015 pukul 10.14)
Source Picture : www.engager.com


-Writer : Galina Sophia Rizky-

Comments

Post a Comment