Pilkada Oh Pilkada

Source Picture : tekno.kompas.com
Hari ini tanggal 15 Februari 2017, merupakan hari penentuan masa depan bagi beberapa wilayah yang melaksanakan Pilkada dan salah satunya adalah wilayah DKI. Ditinjau dari seberapa pentingnya kegiatan ini, RI Satu -Pak Jokowi- sampai mengeluarkan surat keputusan bahwa hari ini dinyatakan sebagai hari libur nasional. Urgensinya memang sudah jelas, bahwa hari ini adalah penentuan untuk tahun-tahun yang akan datang bagi beberapa wilayah yang melaksanakan Pilkada, sehingga Presiden kita memutuskan bahwa hari ini adalah hari libur nasional yang salah satu alasannya jelas agar seluruh masyarakat bisa memilih tanpa adanya hambatan karena bekerja, bersekolah, dan kegiatan lainnya. Artinya, ini dilakukan untuk meminimalisir rakyat yang tidak menggunakan hak suaranya karena hambatan pekerjaan. Bisa dibilang kalau ini merupakan salah satu langkah untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam "berdemokrasi" di Indonesia. 

Isu yang menjadi trending topic di Indonesia beberapa waktu lalu sampai saat ini adalah isu persiapan Pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Pilgub ini diikuti oleh tiga pasang calon dan wakilnya, dimana ketiga cagub ini berasal dari latar belakang yang berbeda. Mulai dari beberapa bulan lalu sampai masa kampanye terakhir tanggal 11 Februari 2017, media disibukkan dengan berbagai berita mengenai dinamika kampanye para Cagub DKI. Mulai dari video viral yang "katanya" disebarkan oleh Buni Yani tentang Ahok yang melakukan penistaan terhadap ayat suci Al Qur'an, sampai pada sidang Ahok mengenai penistaan agama. Walaupun begitu, masa kampanye tetap saja dijalankan oleh ketiga pasangan calon semaksimal mungkin. Selain itu, ketiga Paslon juga bertemu di acara Debat Resmi Pilkada DKI yang dilaksanakan sebanyak tiga kali pada masa kampanye, dan yang terakhir berlangsung pada hari Jumat lalu tanggal 10 Februari 2017. Diikuti dengan masa kampanye terakhir tanggal 11 Februari, kemudian mulai tanggal 12 sampai 14 merupakan masa tenang bagi ketiga pasangan calon. 

Berkenaan dengan Pilkada serentak, tulisan ini awalnya memang terinspirasi oleh dua orang tetangga yang sedang berbincang mengenai kandidat Cagub DKI. 

"Sora Ahok unggul wae mah meunang geura, nya atuh da kumaha meureun da kandidat nu lainna teu apal nanaon, ibaratna ke mun kapilih oge meureun teu apal nanaon da tadina oge gawe na lain didinya."
"Untung pamimpin mah gampang saukur tutunjuk jeung nitah, padahal mah tukang dagang ge bisa maju sakalian"
Terjemahan :
"Suara Ahok unggul terus mungkin bakal menang, ya gimana lagi kan kandidat yang lainnya gak tahu apa-apa, ibaratnya kalaupun mereka terpilih juga mungkin nanti tidak akan tahu apa-apa karena tadinya mereka tidak bekerja di situ (di bidang itu)."
"Untung jadi pemimpin itu gampang cuma nyuruh-nyuruh, padahal pedagang juga bisa maju aja sekalian."

Cukup menggelikan memang bagi saya saat mendengar perbincangan tersebut karena saya memang sepemikiran dengan pernyataan yang pertama, namun saya sangat tidak setuju dengan pernyataan yang kedua. Menanggapi pernyataan pertama, saya memang mengikuti debat Cagub DKI yang ketiga hari Jumat lalu, dan sekilas saya melihat bahwa latar belakang itu memang merupakan sesuatu yang mendukung. Agus Yudhoyono yang berasal dari background militer, dimana kita tahu bahwa militer adalah instansi yang netral dan tidak boleh memihak apalagi terlibat dalam politik, tugas intinya hanya menjaga keamanan dan kestabilan NKRI apapun yang terjadi. Sehingga ketika terjun ke dunia politik, pasti akan merasa agak canggung dan masih perlu banyak belajar karena memang dididik dengan jiwa netral yang menunjung tinggi keberagaman dan perbedaan, namun tetap damai. Selain itu Agus pasti lebih memahami strategi militer dengan baik dibandingkan dengan strategi berpolitik. Kandidat nomor dua yakni Ahok, berasal dari background yang sudah lama bergelut di dunia politik, sehingga secara skill politik, Ahok memang bisa dibilang sudah mahir dan tahu betul perpolitikan dan Jakarta karena dia juga adalah Gubernur DKI periode sebelumnya. Kandidat ketiga berasal dari background pendidikan, dimana sudah jelas sangatlah mahir dalam teori dan pendidikan.

Pada kenyataannya, masing-masing kandidat sangat mahir di bidangnya masing-masing. Sayangnya, ini adalah Pilkada dimana skill politiklah yang dibutuhkan agar bisa menonjol, hal ini terlihat dalam acara debat Cagub DKI dimana memang kandidat yang memiliki skill berpolitik bisa dikatakan lebih "menarik" secara pembicaraan, jawaban yang dilontarkan, visi misi, dan hal-hal yang menarik massa dan menarik simpati rakyat bisa lebih unggul dibanding kandidat lain. Apabila dihadapkan dengan permasalahan perang, strategi keamanan dan ketertiban, kestabilan nasional, pasti kandidat nomor satu yang lebih unggul daripada kandidat lain. Jika berbicara masalah pendidikan, peningkatan kesejahteraan lewat pendidikan, pasti kandidat nomor tiga yang lebih unggul. Hanya saja, dalam hal menarik massa kemungkinan kandidat nomor dua, yakni Ahok, yang masih unggul dibanding yang lain. Tinggal rakyat memilih saja Jakarta mau dibawa ke arah mana, maka paslon itulah yang harus dipilih. 

Terlepas dari itu, ada hal lain yang memang penting untuk dibahas dari kandidat nomor dua, yakni masalah yang memang bisa dibilang "menyinggung" umat Islam dan semua sudah tahu bahwa kandidat nomor dua saat ini sedang dalam proses pengadilan mengenai kasus penistaan agama. Tidak bisa dipungkiri bahwa Indonesia adalah negara dengan mayoritas beragama Islam, sehingga pada kenyataannya memang benar bahwa umat Islam harus memiliki pemimpin yang juga beragama Islam. Ini adalah fakta pertama dan tidak bisa diganggu gugat karena ada perintahnya memang dalam Al Quran dan As Sunnah. Fakta keduanya adalah Indonesia adalah negara yang masih belum sepenuhnya menyadari dan menerapkan hukum dan aturan Islam. Fakta ketiga adalah pejabat-pejabat tinggi di Indonesia merupakan orang-orang yang belum sepenuhnya menyadari pentingnya penerapan hukum dan aturan Islam, meskipun mungkin ada di jajaran pejabat sana yang menginginkan hal itu, namun pasti mereka masih menjadi kelompok minoritas. 

Berdasarkan fakta-fakta tersebut, memang sulit menjalankan hukum dan aturan Islam sepenuhnya di negeri yang masih perlu banyak diperbaiki ini. Semoga akhirnya umat Islam bisa mewujudkan keinginannya dengan melakukan aksi nyata, bukan....bukan aksi sekedar aksi demo, misalnya, yang melulu menuntut perubahan pada pemerintah, tapi aksi yang mewujudkan perubahan itu sendiri. Lantas bagaimana? Jadilah dulu umat Islam yang benar-benar memegang ajaran dan nilai-nilai Islam dalam diri masing-masing, kemudian duduklah di bangku-bangku pejabat tinggi Indonesia (artinya jadilah pejabat tinggi di Indonesia) dan bersatulah untuk melakukan perubahan NYATA, bukan sekedar menuntut pada mereka yang tidak tahu apa yang kita inginkan. Ini adalah tugas generasi muda, generasi peneruslah yang mampu dan harus melakukannya. 

Selanjutnya menanggapi pernyataan kedua dari tetangga saya itu, saya sangat tidak setuju bahwa pekerjaan pemimpin itu mudah. Menjadi pemimpin itu sangatlah susah, tidaklah semudah yang dibayangkan. Berdasarkan pengalaman, saya pernah merasakan berada di posisi tersebut dan pada awalnya saya merasa akan baik-baik saja, tapi pada akhirnya ternyata beban dan tanggung jawab yang dipikul itu sangat besar. Apalagi untuk menjadi pemimpin bagi rakyat banyak, pasti akan sangat sulit. Selanjutnya lebih lengkap tentang opini saya mengenai pemimpin bisa juga baca pada artikel saya berjudul Pemimpin Idola Bagian II (bisa langsung di klik untuk langsung tertuju pada tulisan tersebut).

Akhir kata, semoga tulisan ini bermanfaat dan mohon maaf apabila ada kesalahan dan kekeliruan tolong diingatkan, karena tulisan ini murni adalah subjektivitas pemikiran saya dan berdasarkan opini saya pribadi. Semoga setelah ini generasi muda Islam mampu melakukan perubahan seperti apa yang diinginkan oleh umat Islam itu sendiri. 

Comments