Khalid merupakan panglima perang yang unggul, namun yang saya ambil hikmahnya dan titik beratkan disini adalah bukan masalah perang fisiknya, melainkan banyak hal yang dapat diambil dari kisah beliau. Salah satunya yakni bagaimana kita menjadi pribadi yang selalu mempersembahkan dan menoreh prestasi untuk membela dan memperjuangkan apa yang kita yakini kebenarannya, yakni Islam, dengan seluruh potensi dan kemampuan yang kita miliki. Seperti halnya Khalid, ia jago di bidang perang dan itulah bidang dia hingga disitulah juga prestasi dia dalam Islam. Kalau misalnya kamu jago di bidang yang lain, ya gunakan kemampuanmu itu untuk membela Islam dong. For your information, dulu perang fisik itu sah dan untuk menaklukan daerah lain serta kerajaan lain, maka dibutuhkan perang untuk kemudian membuatnya takluk. Makannya kalau orang-orang saat itu belajar perang ya wajar saja. For Your Information juga, perang itu bukanlah satu-satunya cara untuk menyebarkan Islam. Perang dilakukan karena pada saat itu zamannya memang zaman perang fisik. Sekarang? Ya sudah beda lagi zamannya. Toh Mushab Bin Umair juga menyebarkan Islam di Madinah lewat dakwah personal, Ja'far bin Abu Thalib juga mengislamkan Raja Najjasyi lewat diplomasinya yang santun akhirnya raja itu masuk Islam. Sekarang paham kan poin pentingnya apa? Sekali lagi bukan di masalah perang fisiknya, tetapi pada bagaimana Khalid menggunakan kemampuan dan kehebatannya untuk berprestasi di Islam, di mata Allah dan Rasulullah.
Sebelumnya, kisah Khalid ini belum semuanya saya tulis secara tuntas karena saya bahas secara tidak mendalam saja sudah lumayan panjang, apalagi kalau saya bahas tuntas mungkin akan menjadi sebuah buku. hehe. Pembaca tolong baca sampai selesai ya agar tidak ada hal yang terpotong-potong yang khawatirnya akan menimbulkan kekeliruan :)
Baiklah kita mulai kepada kisah Khalid Ibn Walid.
Khalid Bin Walid, seorang panglima yang tak terkalahkan, hanya pernah terkalahkan oleh Rasulullah. Puluhan kali bahkan ratusan kali masuk medan pertempuran dan tak pernah sekalipun kalah, Ia adalah Panglima terhebat kedua setelah Rasulullah Muhammad.
![]() |
| Sumber Gambar |
Baiklah kita mulai kepada kisah Khalid Ibn Walid.
Khalid Bin Walid, seorang panglima yang tak terkalahkan, hanya pernah terkalahkan oleh Rasulullah. Puluhan kali bahkan ratusan kali masuk medan pertempuran dan tak pernah sekalipun kalah, Ia adalah Panglima terhebat kedua setelah Rasulullah Muhammad.
Roderick, seorang Panglima Romawi dalam pertempuran Yarmuk sempat bertanya kepada Khalid, "Ceritakan padaku tuan, mengapa kau sampai digelari pedang Allah yang terhunus? Apakah Tuhan telah menurunkan sebilah pedang kepadamu dari langit, hingga jika kau ayunkan dia ke arah musuh maka kau pasti menghancurkan mereka?"
Pertanyaan Roderick menggambarkan betapa tidak terkalahkannya Khalid, sampai ia kagum dan mengira pedang Khalid diturunkan oleh Allah dari langit karena tidak bisa terkalahkan.
Tentu saja jawabannya tidak. Khalid ibn Al Walid, anak dari Walid ibn Al Mughirah, adalah seorang panglima perang dan ia sangat mencintai bidang ini karena sudah sejak kecil ia mencintai ketangkasan, berkuda, dan memainkan pedang. Ia selalu berlatih dan mengasah kemampuannya, bahkan memang sebelum masuk Islam pun Khalid seringkali ia dipercaya sebagai panglima ataupun komandan pasukan perang. Sehingga ketika ia masuk Islam, potensi yang dimilikinya ini juga digunakan semata-mata untuk membela dan memperjuangkan Islam, agama yang sudah dia yakini dengan sepenuh hati. Itulah kenapa pada akhirnya ia diberi gelar Pedang Allah yang terhunus.
Khalid merupakan anak dari satu-satunya orang terkaya di Mekkah dan bangsawan terkemuka, saking banyak harta ayahnya, sampai ketika musim haji pun yang menyediakan perjamuan untuk tamu-tamu hanya ayahnya dan banyak sekali sumbangsih ayahnya Khalid melalui hartanya di Mekkah. Hal ini menjadikan Khalid fokus hanya mengasah hobi dan kemampuannya saja dalam berkuda dan memainkan pedang yang sudah difasilitasi oleh ayahnya. Khalid berasal dari kalangan Bani Makhzum, dimana bani ini adalah klan yang bertugas mengurusi masalah peperangan di Mekkah.
Bani Makzhum adalah bani yang selalu bersaing dengan bani Hasyim dan tak mau terkalahkan. Rasulullah Muhammad dilahirkan dari Bani Hasyim, sehingga mereka ingkar terhadap Nabi Muhammad bukan karena mereka mengingkari kebenaran karena sebenarnya mereka tahu bahwa itu benar, hanya saja mereka tidak ingin terkalahkan karena seorang Nabi lahir dari Bani Hasyim. Bahkan Ayah Khalid, Walid Bin Mughirah pun memegang prinsip yang sama, tidak mau terkalahkan oleh Bani hasyim. Tetapi Allah Maha membolak-balikan hati manusia, akhirnya Allah memberikan hidayah untuk Khalid dan menganugerahkan Khalid pada perjuangan Islam hingga kontribusinya dalam memperjuangkan Islam akhirnya terbukti sangat besar.
Khalid memiliki sifat pemberani, pandai berkuda, dan pintar dalam urusan siasat perang. Sebelum masuk Islam, ia berkontribusi juga dalam melawan pasukan Islam, contohnya di Perang Badar, Perang Uhud, dan Perang Khandaq. Hingga akhirnya ia sampai pada turning point dalam hidupnya. Khalid adalah orang yang cerdas serta seringkali mendengar ayat-ayat Al Qur'an sebelum masuk Islam, sehingga memang hatinya juga sudah dibukakan untuk menerima Islam lewat kecerdasannya itu. Suatu hari, ia sedang melakukan pertemuan dengan kawan-kawannya dan membicarakan tentang perkembangan Islam yang pesat dan selalu menang. Hatinya akhirnya sangat tertarik dan kagum pada Islam. Nabi Muhammad juga sudah melihat potensi yang dimiliki Khalid dan senantiasa mendoakannya agar kelak bisa masuk Islam. Akhirnya Rasul berkata pada saudaranya Khalid yg sudah masuk Islam bahwa
jika Khalid masuk Islam, maka dia akan dijadikan pemimpin terutama di medan
pertempuran. Saudaranya Khalid mendakwahinya dengan mengirim surat pada
Khalid dan memberitahukan ajaran Islam, karena hidayah dari Allah dan
kecerdasannya mempermudah dia mendapat hidayah, maka Khalid akhirnya
bisa menerima kebenaran dan dia bersyahadat di depan Rasulullah untuk
masuk Islam. Rasulullah juga bersabda ketika Khalid menemuinya :
"Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk kepadamu. Sesungguhnya aku melihat suatu kecerdasan akal bagimu, aku selalu mengharap bahwa jangan sampai ia menyerahkan kamu melainkan kepada kebajikan."
Islamnya Khalid bin Walid membuat para petinggi kaum Quraisy yang belum memeluk Islam kebingungan dan merasa gelisah karena panglima hebat yang selama ini mereka andalkan untuk melawan kaum muslimin akhirnya menjadi pembela Islam. Abu Sufyan sebagai pemimpin kaum Quraisy saat itu juga merasa takut dan marah atas Islamnya Khalid, sampai Khalid dipanggil dan mau disiksa agar ia kembali kafir. Teman Khalid yang belum masuk Islam bernama Ikrimah akhirnya membela Khalid dan Abu Sufyan kemudian merasa lebih tenang dan tidak jadi menghukum Khalid. Sejak saat itu kekuatan kaum Quraisy yang menentang Islam melemah dan Islam justru menjadi semakin kuat.
Philip K.Hitti dalam bukunya berjudul History of Arabs juga menceritakan mengenai kisah Khalid dalam berbagai penaklukan yang dilakukan bersama pasukan muslim. Bahkan ia juga mensejajarkan antara prestasi Khalid dengan prestasi Napoleon, Hannibal, dan Aleksander. Bahkan menurut saya sebagai penulis, prestasi Khalid jauh melebihi Napoleon, Hannibal, dan Aleksander.
Peperangan pertama pasukan muslim yang menempatkan Khalid sebagai panglima adalah di Perang Mu'tah melawan pasukan Romawi. Salah satu riwayat menerangkan bahwa perang ini dilatarbelakangi atas pembunuhan beberapa utusan Rasulullah yang menemui penguasa Bushra. Pasukan lawan saat itu berjumlah 100.000 orang dan pasukan muslim berjumlah hanya 3.000 orang.
Pada tahun ke 8 hijriah (629 M), Nabi Muhammad menyerahkan pimpinan pasukan kepada Zaid Bin Haritsah. Kemudian Rasul berkata "Kalau Zaid gugur, maka Ja'far bin Abi Thalib yang memegang pimpinan, dan kalau Ja'far gugur, maka Abdullah bin Rawahah yang memegang pimpinan."
Masyarakat saat itu mengucapkan selamat jalan kepada pasukan dan Nabi Muhammad pun mengantarkan mereka sampai ke luar kota dengan memberikan pesan, '"jangan membunuh wanita, bayi-bayi, orang-orang buta, anak-anak, jangan menghancurkan rumah-rumah atau menebangi pohon-pohon."
Heraklius saat itu yang memimpin pasukan lawan dengan membawa 100.000 pasukan orang Romawi dan bahkan katanya ada bantuan lagi sebanyak 100.000 dari Lakhm, Judham, Qain, Bahra, dan Bali. Pasukan Islam berjumlah 3.000. Jika dilihat secara jumlah, pasukan muslim jelas kalah secara jumlah dan mungkin pasukan musuh saat itu sudah meremehkan dan optimis untuk menang, namun hasil yang diluar dugaan terjadi. Alangkah dahsyatnya kekuatan iman yang mengalahkan ketakutan. Mungkin para tentara muslim sebagai manusia biasa juga saat itu merasa khawatir karena tidak seimbangnya jumlah pasukan, namun kekuatan iman dan keyakinan serta ketakutan mereka hanya pada Allah yang mengantarkan mereka pada kemenangan dan banyak juga yang syahid. Semua yang didapat mereka adalah kemenangan, menang dalam perang ataupun menang sebagai seorang yang syahid di mata Allah dan Rasulullah. Peperangan sengit pun terjadi dan Zaid sebagai panglima berusaha mempertahankan diri, namun ia tahu jika ia akan mati saat itu dan syahid. Akhirnya dugaan itu benar dan ia hancur luluh oleh tombak musuh. Ja'far yang saat itu berusia 33 tahun kemudian segera meraih bendera dari tangan Zaid yang gugur, kemudian ia mengambil alih pimpinan. Kuda Ja'far saat itu dikepung dan diterobos hingga ia terjun ke tengah musuh dan menyerbu dengan mengayunkan pedangnya. Bendera saat itu dipegang oleh tangan kanan Ja'far, ketika tangan itu terputus ditebas musuh, maka ia pegang dengan tangan kirinya dan ketika tangannya yang tersisa itu ditebas juga, maka ia peluk bendera itu dengan kedua pangkal lengannya sampai akhirnya ia gugur, diceritakan bahwa yang menghantamnya orang Romawi dengan sekaligus hingga ia terbelah dua.
Setelah Ja'far gugur, bendera diambil oleh Abdullah bin Rawahah. Abdullah akhirnya maju terus bertempur sampai akhirnya ia juga gugur. Kemudian bendera diambil oleh Thabit b.Arqam (Banu Ajlan) yang kemudian berkata: "Saudara-saudara, mari kita mencalonkan salah seroang dari kita." Kemudian mereka menjawab "Engkau Sajalah". Thabit menjawab : "Tidak, saya tidak akan mampu." Kemudian pilihan jatuh kepada Khalid. Awalnya Khalid menolak karena merasa tidak pantas, karena ia merasa bahwa dia baru mengikuti perjuangan kaum muslim dan banyak yang lebih pantas dari dia sebab yang lain telah ikut berjuang sebelum ia masuk Islam. Dalam situasi peperangan, Thabit akhirnya menjawab: "Ambil bendera ini Khalid, tidaklah aku ambil bendera ini melainkan akan kuserahkan untukmu." Akhirnya Khalid bersedia mengambil benderanya. Pasukan muslim saat itu sudah mulai kendor dan Khalid sebagai jenderal yang cukup ulung, seorang penggerak militer yang tidka banyak bandingannya. Ia akhirnya memberikan komando dan pasukan msulim akhirnya bisa diaturnya kembali. Khalid sengaja membuat insiden kecil yang dibuat untuk mengulur-ulur sampai petang hari. Malamnya kedua pasukan tentu akan beristirahat sejenak sampai pagi. Pada saat itulah Khalid berkesempatan untuk menyusun siasat perangnya.
Khalid melaksanakan strateginya, yakni ketika malam hari ia dan pasukan menimbulkan suara kegaduhan seolah-olah ada bala bantuan yang datang. Ia juga mengatur posisi pasukan sedemikian rupa dan mengganti orang-orang yang tadinya di barisan depan menjadi ke barisan belakang agar pasukan musuh menyangka bahwa pasukan itu terdiri atas orang-orang baru. Keesokan harinya, strategi itu berhasil dan pasukan Romawi merasa gelisah dan takut karena mereka berpikir jumlah pasukan muslim kemarin yang 3.000 saja sudah membuat pasukan Romawi kekalahan, apalagi melihat kemampuan Khalid yang sampai menghabiskan 9 buah pedang, apalagi sekarang dimana datang bala bantuan untuk pasukan muslim -karena saat itu mereka mengira bahwa ada bantuan tambahan pasukan- akhirnya Romawi tidak berani menyerang dan hanya diam saja karena ketakutan, akhirnya Khalid membawa pasukan muslim mundur dan kembali ke Madinah menghadap Rasul. Peristiwa ini memang menyebabkan Khalid dan pasukan muslim diejek karena mundur dan dianggap lari dari jalan Allah. Khalid mungkin disana berpikir bahwa jika peperangan dilakukan dan dia tidak berstrategi seperti itu, maka akan lebih banyak lagi pasukan muslim yang gugur. Maka dari itu Rasulullah saat itu juga menghibur Khalid dan pasukan muslim yang diejek itu dengan berkata "Mereka bukan pelarian. Tetapi mereka orang-orang yang akan tampil kembali, Insya Allah."
Perang Mu'tah ini sebenarnya menjadi cikal bakal untuk perkembangan Islam selanjutnya. Setelah kejadian itu, panglima pasukan Romawi akhirnya menyatakan diri masuk Islam. Heraklius akhirnya merasa marah dan meminta dia untuk kembali pada agama Nasrani, jika tidak maka ia akan dihukum mati. Namun, panglima itu tetap berpegang teguh pada Islam sampai akhirnya ia dibunuh. Setelah itu, pasukan Romawi disuruh meninggalkan kerajaan, maka mereka banyak yang meninggalkan kerajaan dan angkatan perangnya, akhirnya banyak juga dari mereka yang masuk Islam. Kekaisaran Byzantium akhirnya tergoyahkan karena semakin hari semakin banyak yang memeluk Islam dan sudah mencapai ribuan orang. Khalid juga yang akhirnya memimpin pasukan berkuda ketika pembebasan Mekkah.
Saat itu bahkan kerajaan Romawi, Persia, Byzantium adalah kerajaan-kerajaan besar. Jika ada siapapun yang menyatakan bahwa kerajaan itu akan dikalahkan, maka orang itu disebut orang gila. Hal ini menunjukkan bahwa mustahil kerajaan besar itu untuk ditaklukan, tapi dengan kekuatan pasukan muslim di bawah Khalid, akhirnya kerajaan-kerajaan besar itu takluk dan akhirnya dikuasai oleh Islam. Penaklukan yang dilakukan oleh Islam pada akhirnya selalu disertai dengan berbondong-bondongnya orang-orang untuk masuk Islam. Cahaya kebenaran akhirnya tersampaikan melalui Khalid. Khalid juga akhirnya selalu memimpin berbagai penaklukan ke berbagai daerah seperti seluruh Semenanjung Arab, Suriah, Irak dan Persia, serta daerah-daerah lainnya. Islam selalu memenangkan pertempuran melawan musuh di bawah pimpinan Khalid.
Khalid bahkan bercita-cita untuk syahid, namun pada akhirnya ia wafat dalam keadaan sedang sakit di atas ranjang, namun meskipun dia tidak syahid di medan pertempuran prestasinya di Islam juga tetap membuatnya menjadi salah satu yang mati secara mulia. Dikisahkan pada saat Umar mencabut posisinya sebagai panglima, pada awalnya ia merasa kesal. Akhirnya ia juga berkata kepada Umar kurang lebih seperti ini "Terima kasih telah mencabut posisiku, sesungguhnya selama ini aku susah sekali untuk syahid, karena ketika di medan pertempuran ketika menjadi pemimpin, sesungguhnya aku tidak bisa membiarkan diriku terbunuh bagaimana nasib pasukan karena aku harus selalu memikirkan bagaimana pasukan Islam memenangkan perang. Akhirnya sekarang aku bisa syahid dengan mudah tanpa harus memikirkan itu." Namun akhirnya beliau wafat bukan di medan pertempuran seperti yang beliau impikan, melainkan di atas ranjang di kamarnya.
Ada satu kisah yang menyadarkan Khalid mengenai makna dia melakukan perang dalam Islam. Suatu kejadian dimana ia masih baru memeluk Islam, kurang lebih baru 8 bulan, saat terjadinya pembebasan Mekkah (Futuh Mekkah) Khalid memimpin pasukan berkuda. Rasulullah saat itu sudah memerintahkan bahwa jangan sampai ada darah tertumpah, artinya mereka datang dengan damai dan membawa kedamaian. Khalid melakukan suatu kekhilafan, ia malah melakukan pertempuran karena penduduk Mekkah di bawah kota sangat membenci Rasulullah dan pertempuran akhirnya terjadi, beberapa penduduk Mekkah terbunuh. Rasulullah menegurnya dan jawaban Khalid seperti ini :
"Engkau menghendaki sesuatu dan Allah menghendaki sesuatu yang lain. Lalu apa yang dikehendaki Allah itu mengalahkan apa yang kau kehendaki. Dan aku tidak bisa berbuat selain apa yang telah terjadi itu."
Kejadian ini menggambarkan beberapa hal, pertama yakni sifat Khalid yang agresif. Kedua pemahaman Khalid yang belum sempurna mengenai konsep takdir (kehendak Allah-kehendak manusia) membawanya pada kondisi seolah-olah mengabaikan Rasulullah, menentangnya, dna berdalih dengan takdir. Di awal keislamannya ini, Khalid mungkin salah menafsirkan penghargaan tinggi yang diberikan Rasulullah kepadanya, yakni "Pedang Allah yang dihunusNya kepada kaum musyrikin."
Rasulullah kemudian memberikan titik balik pada Khalid, sebuah pengendalian akan sifat agresifnya. Diawali dengan peristiwa yang selalu dikenang Khalid sepanjang hidupnya, yakni insiden Bani Jadzimah. Rasulullah mengutus Khalid pada bani Jadzimah yang kali ini ia diutus sebagai da'i, bukan sebagai komandan perang. Ketika melihat Khalid datang, Bani Jadzimah menghunus pedang mereka kemudian Khalid berkata "Letakkan senjata kalian karena semua orang saat ini telah masuk Islam!" Tetapi ketika semua orang menuruti perintah Khalid, Khalid kembali khilaf karena keagresifannya, semua orang ditangkap dan diseret ke pembantaian dan terbunuhlah sekian banyak di antara mereka. Setelah berita itu sampai kepada Rasulullah Muhammad, maka Rasul begitu berduka terhadap apa yang dilakukan Khalid karena itu telah melampaui batas. Akhirnya orang-orang juga terkejut dan menganggap bahwa kaum muslimin adalah teladan tertinggi dalam segala perihidup dan etika perang, dengan kejadian ini mereka seolah hilang harapan. Rasulullah kemudian berseru di atas mimbar dengan mengangkat tangannya "Ya Allah, sesungguhnya aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang dilakukan oleh Khalid Ibn Walid!" Tak terasa air mata beliau berlinang dan beliau kemudian memanggil Ali dan memerintahkan pada Ali dan memberikan uang untuk menebus orang-orang yang ditawan itu untuk dibebaskan. Kemudian setelah semua dibebaskan, maka sisa uang yang masih ada pada Ali ia berikan pada tawanan-tawanan itu sebagai ganti atas kepedihan yang mereka rasakan.
Mengenai insiden Bani Jadzimah, ada seroang sahabat Rasulullah yang berdebat dengan Khalid atas ketidaksetujuannya dengan sikap Khalid pada bani Jadzimah. Debat panas dan sengit sampai membuat Khalid mengumpat dan mencela Abdurrahman ibn Auf. Rasulullah akhirnya mendengar hal ini dan menegur Khalid dan sabda Rasulullah inilah yang kemudian menjadi tamparan bagi Khalid dan membuat Khalid menyadari kembali siapa dirinya dan merenungkan kembali makna pengorbanannya untuk Islam. Rasul bersabda :
"Tahan dirimu hai Khalid! jangan kau cela sahabat-sahabatku! Demi Allah andaikan kau memiliki emas sebesar Gunung Uhud sekalipun, lalu kau infakkan semuanya di jalan Allah .. Demi Allah itu tidak akan bisa menyamai satu genggam kurma atau setengah genggam yang mereka infakkan."
Apakah Khalid bukan shababat Rasulullah? Tentu saja ya. Tapi jika titik acuannya seperti Abdurrahman Bin Auf, tentu saja dapat dimaklum jika Khalid tidak masuk hitungan. Abdurrahman ibn Auf sudah membela risalah sejak di Mekkah dan ikut berdarah-darah, disiksa, disakiti, dirampas hartanya, diancam, dan diintimidasi karena keyakinannya. Seorang yang mengorbankan harta dan jiwanya untuk membela Islam. Sampai mengikuti Rasulullah hijrah ke Madinah tanpa membawa apapun dari Mekkah karena semua harta orang muslim dirampas oleh musyrikin Quraisy. Baru 8 bulan Khalid mendampingi Rasulullah, itu pun ketika dalam masa kejayaan. Adakah bisa dibandingkan dengan 21 tahunnya Abdurrahman Bin Auf? Emas seberat Gunung Uhud. Kata Uhud itu sendiri juga yang paling menghantam jiwa Khalid, ia teringat ketika di Perang Uhud justru Khalid yang memimpin pasukan musuh dan akan membunuh Rasulullah.
Sejak saat itu Khalid tau diri. Pedang Allah yang terhunus tetaplah hanya pedang. Jika tangan yang menggunakannya tak sudi lagi karena si pedang selalu meleset atau liar, mudah sekali untuk mencampakannya dan menggantinya dengan pedang yang lain. Ia lalu tahu bahwa mukmin sejati bukanlah orang yang mencintai perang, kerusakan, dan darah tertumpah. Seseorang menjadi pahlawan Islam justru karena dia mencintai perdamaian. Ia benci perang. Tapi jika melakukannya adalah mentaati Allah, maka ketaatannya akan melampaui batas suka dan tak suka. Khalid akhirnya mengoreksi prinsip yang selama ini dianutnya; perang bukanlah untuk perang itu sendiri. Turunlah Al Qur'an surat Al Baqarah ayat 216 yang mengingatkannya bahwa perang bukan untuk perang, melainkan untuk ketaatan pada Allah. Jika perang itu bukan karena ketaatan, melainkan hanya keinginan pribadi atau kecintaan pribadi, maka hal itu bukanlah hal yang dibenarkan. Setelah kejadian itu betapa mulianya Rasulullah, beliau tak membiarkan Khalid menjadi olok-olok dan cela atas kesalahan yang fatalnya itu, Rasul menegaskan bahwa peran dan gelarnya sebagai pedang Allah tidaklah dicabut. Rasulullah bersabda, "Jangan lagi kalian mencela Khalid, sesungguhnya dia adalah salah satu pedang dari pedang Allah yang dihunusnya kepada kaum musyrikin."
Terlebih lagi jika ada yang mengatakan perang atas nama Islam, tapi tidak tahu bagaimana risalah, tata cara dan hukum perangnya yang dicontohkan Rasulullah dan hanya karena satu atau dua penggalan ayat di Al Qur'an tanpa melihat sebab musababnya dan tidak mempelajari hukumnya perang yang dicontohkan Rasulullah, maka ia salah besar dan bukan berperang untuk Islam. Melainkan perang atas ketidaktahuannya, perang atas penafsiran sesuka hatinya. Iman tanpa ilmu itu berbahaya, ilmu tanpa iman pun juga berbahaya. Maka kita harus memiliki dua elemen yang sama kuatnya dalam hidup kita seperti slogan Pak Tjokroaminoto, yakni "Iman dan Ilmu." Maka pelajarilah dulu ilmunya secara kaffah, jangan setengah-setengah. Jangan menafsirkan dan menyimpulkan suatu ayat Al Qur'an ataupun hadits sesuai kehendak pribadi, karena itu adalah hal yang sangat keliru dan membahayakan, bahkan bisa menimbulkan kerusakan. Mungkin itulah yang dilakukan oleh orang-orang yang bertindak katanya membela Islam tapi tidak sesuai dengan kaidah yang ada dalam Islam. Belajarlah dan cari gurunya, guru yang mengajarkan Al Qur'an dan As Sunnah yang benar.
Rasulullah mencontohkan penyebaran Islam bukan hanya dengan perang, melainkan lewat dakwah personal, juga dakwah melalui diplomasi seperti yang telah penulis sebutkan di atas pada paragraf pertama. Karena Islam itu indah, damai, dan penuh kenikmatan. Karena masuk Islam itu kan tidak ada paksaan, hanya saja perintahnya adalah harus disebarkan dan disampaikan dulu ajarannya, masalah diterima atau ditolak kembali lagi pada hidayah dari Allah. Namun sebagai manusia, terutama sebagai umat Islam ya kita harus cerdas dan bisa menggunakan berbagai metode yang baik dan damai untuk kemudian memahamkan Islam ke seluruh dunia juga membuktikan bahwa islam itu #rahmatanlilalamin. Seperti mungkin salah satunya yang dicontohkan oleh Mushab bin Umair yang berhasil menaklukan Madinah, Mushab adalah diplomat atau duta Islam pertama yang diutus untuk berdakwah di Madinah. Mushab berhasil menaklukan dan membuat Madinah menjadi wilayah yang pertama menegakkan Islam saat itu tidak dengan perang kok, tapi dengan damai. Sekarang paham kan poin utamanya?
Ini adalah memaksimalkan potensi dan kemampuan yang dimiliki untuk membela Islam, ajaran yang kita yakini seperti halnya yang dilakukan Khalid. Satu hal lagi, ketika orang-orang diluar sana membanggakan tokoh-tokoh seperti Heraklius, Aleksander, Napoleon, kenapa kita sebagai muslim tidak bangga kepada salah satu pahlawan Islam? Khalid ibn Walid yang setara dengan tokh-tokoh tersebut, bahkan lebih hebat. Bahkan saya masih banyak menemukan orang-orang Islam yang bangga dan lebih mengagung-agungkan tokoh-tokoh tersebut, padahal Khalid lebih hebat. Kenapa strategi perangnya itu tidak dipelajari di akademi militer saja misalnya? Bahkan kebanyakan sekolah-sekolah militer di dunia lebih berpedoman pada panglima-panglima barat tersebut. Kenapa Khalid tidak? Padahal strategi dan teorinya mungkin bisa dijadikan pedoman untuk latihan-latihan sekolah atau akademi militer masa kini. It just my opinion :)
Khalid bahkan bercita-cita untuk syahid, namun pada akhirnya ia wafat dalam keadaan sedang sakit di atas ranjang, namun meskipun dia tidak syahid di medan pertempuran prestasinya di Islam juga tetap membuatnya menjadi salah satu yang mati secara mulia. Dikisahkan pada saat Umar mencabut posisinya sebagai panglima, pada awalnya ia merasa kesal. Akhirnya ia juga berkata kepada Umar kurang lebih seperti ini "Terima kasih telah mencabut posisiku, sesungguhnya selama ini aku susah sekali untuk syahid, karena ketika di medan pertempuran ketika menjadi pemimpin, sesungguhnya aku tidak bisa membiarkan diriku terbunuh bagaimana nasib pasukan karena aku harus selalu memikirkan bagaimana pasukan Islam memenangkan perang. Akhirnya sekarang aku bisa syahid dengan mudah tanpa harus memikirkan itu." Namun akhirnya beliau wafat bukan di medan pertempuran seperti yang beliau impikan, melainkan di atas ranjang di kamarnya.
Ada satu kisah yang menyadarkan Khalid mengenai makna dia melakukan perang dalam Islam. Suatu kejadian dimana ia masih baru memeluk Islam, kurang lebih baru 8 bulan, saat terjadinya pembebasan Mekkah (Futuh Mekkah) Khalid memimpin pasukan berkuda. Rasulullah saat itu sudah memerintahkan bahwa jangan sampai ada darah tertumpah, artinya mereka datang dengan damai dan membawa kedamaian. Khalid melakukan suatu kekhilafan, ia malah melakukan pertempuran karena penduduk Mekkah di bawah kota sangat membenci Rasulullah dan pertempuran akhirnya terjadi, beberapa penduduk Mekkah terbunuh. Rasulullah menegurnya dan jawaban Khalid seperti ini :
"Engkau menghendaki sesuatu dan Allah menghendaki sesuatu yang lain. Lalu apa yang dikehendaki Allah itu mengalahkan apa yang kau kehendaki. Dan aku tidak bisa berbuat selain apa yang telah terjadi itu."
Kejadian ini menggambarkan beberapa hal, pertama yakni sifat Khalid yang agresif. Kedua pemahaman Khalid yang belum sempurna mengenai konsep takdir (kehendak Allah-kehendak manusia) membawanya pada kondisi seolah-olah mengabaikan Rasulullah, menentangnya, dna berdalih dengan takdir. Di awal keislamannya ini, Khalid mungkin salah menafsirkan penghargaan tinggi yang diberikan Rasulullah kepadanya, yakni "Pedang Allah yang dihunusNya kepada kaum musyrikin."
Rasulullah kemudian memberikan titik balik pada Khalid, sebuah pengendalian akan sifat agresifnya. Diawali dengan peristiwa yang selalu dikenang Khalid sepanjang hidupnya, yakni insiden Bani Jadzimah. Rasulullah mengutus Khalid pada bani Jadzimah yang kali ini ia diutus sebagai da'i, bukan sebagai komandan perang. Ketika melihat Khalid datang, Bani Jadzimah menghunus pedang mereka kemudian Khalid berkata "Letakkan senjata kalian karena semua orang saat ini telah masuk Islam!" Tetapi ketika semua orang menuruti perintah Khalid, Khalid kembali khilaf karena keagresifannya, semua orang ditangkap dan diseret ke pembantaian dan terbunuhlah sekian banyak di antara mereka. Setelah berita itu sampai kepada Rasulullah Muhammad, maka Rasul begitu berduka terhadap apa yang dilakukan Khalid karena itu telah melampaui batas. Akhirnya orang-orang juga terkejut dan menganggap bahwa kaum muslimin adalah teladan tertinggi dalam segala perihidup dan etika perang, dengan kejadian ini mereka seolah hilang harapan. Rasulullah kemudian berseru di atas mimbar dengan mengangkat tangannya "Ya Allah, sesungguhnya aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang dilakukan oleh Khalid Ibn Walid!" Tak terasa air mata beliau berlinang dan beliau kemudian memanggil Ali dan memerintahkan pada Ali dan memberikan uang untuk menebus orang-orang yang ditawan itu untuk dibebaskan. Kemudian setelah semua dibebaskan, maka sisa uang yang masih ada pada Ali ia berikan pada tawanan-tawanan itu sebagai ganti atas kepedihan yang mereka rasakan.
Mengenai insiden Bani Jadzimah, ada seroang sahabat Rasulullah yang berdebat dengan Khalid atas ketidaksetujuannya dengan sikap Khalid pada bani Jadzimah. Debat panas dan sengit sampai membuat Khalid mengumpat dan mencela Abdurrahman ibn Auf. Rasulullah akhirnya mendengar hal ini dan menegur Khalid dan sabda Rasulullah inilah yang kemudian menjadi tamparan bagi Khalid dan membuat Khalid menyadari kembali siapa dirinya dan merenungkan kembali makna pengorbanannya untuk Islam. Rasul bersabda :
"Tahan dirimu hai Khalid! jangan kau cela sahabat-sahabatku! Demi Allah andaikan kau memiliki emas sebesar Gunung Uhud sekalipun, lalu kau infakkan semuanya di jalan Allah .. Demi Allah itu tidak akan bisa menyamai satu genggam kurma atau setengah genggam yang mereka infakkan."
Apakah Khalid bukan shababat Rasulullah? Tentu saja ya. Tapi jika titik acuannya seperti Abdurrahman Bin Auf, tentu saja dapat dimaklum jika Khalid tidak masuk hitungan. Abdurrahman ibn Auf sudah membela risalah sejak di Mekkah dan ikut berdarah-darah, disiksa, disakiti, dirampas hartanya, diancam, dan diintimidasi karena keyakinannya. Seorang yang mengorbankan harta dan jiwanya untuk membela Islam. Sampai mengikuti Rasulullah hijrah ke Madinah tanpa membawa apapun dari Mekkah karena semua harta orang muslim dirampas oleh musyrikin Quraisy. Baru 8 bulan Khalid mendampingi Rasulullah, itu pun ketika dalam masa kejayaan. Adakah bisa dibandingkan dengan 21 tahunnya Abdurrahman Bin Auf? Emas seberat Gunung Uhud. Kata Uhud itu sendiri juga yang paling menghantam jiwa Khalid, ia teringat ketika di Perang Uhud justru Khalid yang memimpin pasukan musuh dan akan membunuh Rasulullah.
Sejak saat itu Khalid tau diri. Pedang Allah yang terhunus tetaplah hanya pedang. Jika tangan yang menggunakannya tak sudi lagi karena si pedang selalu meleset atau liar, mudah sekali untuk mencampakannya dan menggantinya dengan pedang yang lain. Ia lalu tahu bahwa mukmin sejati bukanlah orang yang mencintai perang, kerusakan, dan darah tertumpah. Seseorang menjadi pahlawan Islam justru karena dia mencintai perdamaian. Ia benci perang. Tapi jika melakukannya adalah mentaati Allah, maka ketaatannya akan melampaui batas suka dan tak suka. Khalid akhirnya mengoreksi prinsip yang selama ini dianutnya; perang bukanlah untuk perang itu sendiri. Turunlah Al Qur'an surat Al Baqarah ayat 216 yang mengingatkannya bahwa perang bukan untuk perang, melainkan untuk ketaatan pada Allah. Jika perang itu bukan karena ketaatan, melainkan hanya keinginan pribadi atau kecintaan pribadi, maka hal itu bukanlah hal yang dibenarkan. Setelah kejadian itu betapa mulianya Rasulullah, beliau tak membiarkan Khalid menjadi olok-olok dan cela atas kesalahan yang fatalnya itu, Rasul menegaskan bahwa peran dan gelarnya sebagai pedang Allah tidaklah dicabut. Rasulullah bersabda, "Jangan lagi kalian mencela Khalid, sesungguhnya dia adalah salah satu pedang dari pedang Allah yang dihunusnya kepada kaum musyrikin."
Terlebih lagi jika ada yang mengatakan perang atas nama Islam, tapi tidak tahu bagaimana risalah, tata cara dan hukum perangnya yang dicontohkan Rasulullah dan hanya karena satu atau dua penggalan ayat di Al Qur'an tanpa melihat sebab musababnya dan tidak mempelajari hukumnya perang yang dicontohkan Rasulullah, maka ia salah besar dan bukan berperang untuk Islam. Melainkan perang atas ketidaktahuannya, perang atas penafsiran sesuka hatinya. Iman tanpa ilmu itu berbahaya, ilmu tanpa iman pun juga berbahaya. Maka kita harus memiliki dua elemen yang sama kuatnya dalam hidup kita seperti slogan Pak Tjokroaminoto, yakni "Iman dan Ilmu." Maka pelajarilah dulu ilmunya secara kaffah, jangan setengah-setengah. Jangan menafsirkan dan menyimpulkan suatu ayat Al Qur'an ataupun hadits sesuai kehendak pribadi, karena itu adalah hal yang sangat keliru dan membahayakan, bahkan bisa menimbulkan kerusakan. Mungkin itulah yang dilakukan oleh orang-orang yang bertindak katanya membela Islam tapi tidak sesuai dengan kaidah yang ada dalam Islam. Belajarlah dan cari gurunya, guru yang mengajarkan Al Qur'an dan As Sunnah yang benar.
Rasulullah mencontohkan penyebaran Islam bukan hanya dengan perang, melainkan lewat dakwah personal, juga dakwah melalui diplomasi seperti yang telah penulis sebutkan di atas pada paragraf pertama. Karena Islam itu indah, damai, dan penuh kenikmatan. Karena masuk Islam itu kan tidak ada paksaan, hanya saja perintahnya adalah harus disebarkan dan disampaikan dulu ajarannya, masalah diterima atau ditolak kembali lagi pada hidayah dari Allah. Namun sebagai manusia, terutama sebagai umat Islam ya kita harus cerdas dan bisa menggunakan berbagai metode yang baik dan damai untuk kemudian memahamkan Islam ke seluruh dunia juga membuktikan bahwa islam itu #rahmatanlilalamin. Seperti mungkin salah satunya yang dicontohkan oleh Mushab bin Umair yang berhasil menaklukan Madinah, Mushab adalah diplomat atau duta Islam pertama yang diutus untuk berdakwah di Madinah. Mushab berhasil menaklukan dan membuat Madinah menjadi wilayah yang pertama menegakkan Islam saat itu tidak dengan perang kok, tapi dengan damai. Sekarang paham kan poin utamanya?
Ini adalah memaksimalkan potensi dan kemampuan yang dimiliki untuk membela Islam, ajaran yang kita yakini seperti halnya yang dilakukan Khalid. Satu hal lagi, ketika orang-orang diluar sana membanggakan tokoh-tokoh seperti Heraklius, Aleksander, Napoleon, kenapa kita sebagai muslim tidak bangga kepada salah satu pahlawan Islam? Khalid ibn Walid yang setara dengan tokh-tokoh tersebut, bahkan lebih hebat. Bahkan saya masih banyak menemukan orang-orang Islam yang bangga dan lebih mengagung-agungkan tokoh-tokoh tersebut, padahal Khalid lebih hebat. Kenapa strategi perangnya itu tidak dipelajari di akademi militer saja misalnya? Bahkan kebanyakan sekolah-sekolah militer di dunia lebih berpedoman pada panglima-panglima barat tersebut. Kenapa Khalid tidak? Padahal strategi dan teorinya mungkin bisa dijadikan pedoman untuk latihan-latihan sekolah atau akademi militer masa kini. It just my opinion :)
Semoga bermanfaat dan semoga para pembaca semua bisa mengambil hikmahnya dengan bijak karena banyak teladan yang bisa kita ambil dari kisah para shahabat :)
Daftar Referensi :
Hitti, Philip K. 2013. History of The Arabs. Jakarta: PT.Serambi Ilmu Semesta.
Haekal. 1984. Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.
Chalil, K.H Moenawar. 2001. Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad. Jilid 2. Jakarta: Gema Insani.
Fillah, Salim A. 2008. Jalan Cinta Para Pejuang. Yogyakarta: Pro-U Media.
https://www.youtube.com/watch?v=NiA_pAcxLbk
https://www.youtube.com/watch?v=NVyR3zVkw4A
Daftar Referensi :
Hitti, Philip K. 2013. History of The Arabs. Jakarta: PT.Serambi Ilmu Semesta.
Haekal. 1984. Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.
Chalil, K.H Moenawar. 2001. Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad. Jilid 2. Jakarta: Gema Insani.
Fillah, Salim A. 2008. Jalan Cinta Para Pejuang. Yogyakarta: Pro-U Media.
https://www.youtube.com/watch?v=NiA_pAcxLbk
https://www.youtube.com/watch?v=NVyR3zVkw4A

Comments
Post a Comment