Curahan Hati untuk Negeri



Kita membangun dunia
dengan merobek-robek agama,
tak agama kita bersisa
tak juga bangunan kita
(Ibnu Khaldun)

Besarnya suatu negara, luas dan daerahnya, serta panjang usianya itu tergantung pada besar kekuatan pendukungnya.

Kedaulatan suatu negara itu tidak bisa didirikan tanpa solidaritas sosial, sehingga negara yang memiliki banyak suku dan orang-orang yang punya semangat dan solidaritas, negara itu akan lebih kuat dan lebih banyak memiliki daerah kekuasaan yang jauh lebih luas. Itu pernah terbukti di masa Rasulullah Muhammad sampai masa Khulafaur Rasyidin dan masa peradaban Islam termasuk masa Umar bin Abdul Aziz, dimana luas pengaruh dan kekuasaan Islam mencapai 2/3 dunia. Namun jumlah populasi masyarakat yang tinggi saja tidak menjamin negara kuat, jumlah populasi yang tinggi diimbangi solidaritas tinggi membuat suatu negara menjadi sangat kuat. Sifat suatu negara itu tergantung pada solidaritas sosialnya, apabila solidaritas kuat sifatnya akan kuat pula dan umurnya tentu akan panjang. Solidaritas itu tergantung pada banyak dan besarnya jumlah. Hidupnya suatu negara tergantung pada jumlah pendukungnya, merupakan hukum Allah yang telah ditetapkan untuk hamba-hamba-Nya.
Jadi kira-kira kenapa Islam yang pernah mensejahterakan ¾ wilayah dunia saat ini bisa menurun?

Alasannya adalah hilangnya solidaritas karena adanya perpecahan demi egoisme pribadi.

Sekali Usaha Pemusatan Kekuasaan dalam Tangan Seorang telah Tercapai dan Kemewahan serta Sifat Malas telah Merata, maka Berarti Negara telah Mendekati Kehancurannya.

Suatu golongan umat manusia hanya bisa mendapat kekuasaan dengan berjuang, yaitu perjuangan yang membawa kemenangan dan berdirinya suatu negara. Apabila tujuan itu telah tercapai, perjuangan akan berhenti, seperti yang dikatakan oleh seorang penyair :

Saya heran atas perjuangan massa
di antara daku dengannya
begitu perjuangan berhenti,
massa pun jadi leha-leha


Bagaimana dengan Indonesia? Mari Kita Bedah.

Fenomena saat ini menunjukkan :
1. Rainbow Flag dikibarkan secara bebas di mana-mana atas nama HAM, padahal negara dan deklarasi HAM internasional juga menjamin hak manusia yang beragama untuk menjalankan ajaran agamanya. Semacam tidak ada sinkronisasi dan kecacatan dalam peraturan. Apakah HAM ada hanya untuk melegitimasi suatu kebebasan individu tanpa batas, tanpa pertanggung jawaban kepada masyarakat, dan selebihnya tanpa pertanggungjawaban pada Tuhan?
Karena semua agama di Indonesia, selain Islam pun tidak melegalkan hal tersebut.
Rainbow Flag hanya akan berkontribusi dalam menghancurkan sebuah negara. Kenapa? Karena kejantanan menjadi langka, jiwa yang kuat menjadi lemah, populasi menurun karena tidak adanya regenerasi hasil reproduksi dua jenis insan manusia.
Lalu, dari mana generasi terbaik bangsa untuk masa depan akan diperoleh jika jumlah kelahiran kian menurun akibat digaungkannya Rainbow Flag atas nama HAM yang hanya mementingkan individu tanpa melihat kepentingan kekuatan dan keberlangsungan sebuah negara?
2. Terpecah Belah.
Kita manusia.
Memiliki derajat yang sama kecuali di mata Tuhan. Lantas apakah pantas kita menganggap diri kita tinggi sedangkan yang lain rendah? Sedangkan yang berhak menilai hanyalah Tuhan. Tinggi rendah tentu tak bisa kita nilai, namun benar salah patut kita nilai berdasarkan koridor Al Qur’an dan As Sunnah. Selebihnya, kita hanya manusia, pemeluk Islam yang wajib menyebarkan kasih sayang pada seluruh manusia tanpa terkecuali. Tanpa memandang ras, suku, dan agama. Lantas untuk apa kita terpecah belah? Hanya akan menghancurkan negara saja !!
Tidak sayangkah negara yang sudah kuat ini hancur karena egoisme pribadi atau golongan? Terlebih sesama muslim saling menyalahkan, apakah pantas? Tugas sesama muslim itu bukanlah saling menyalahkan, namun saling mengingatkan dalam kebaikan dan kebenaran. Menjadi muslim bukan berarti menjadi yang paling suci, namun berusaha menjadi manusia yang paling benar, di hadapan siapa? Di hadapan Tuhan kita, Allah.
3.      Mirisnya Moral Generasi Muda Indonesia, memang tidak semua, namun banyak.
Menjaga moral adalah dengan berjuang. Berjuang untuk apa? Minimal berjuang untuk melawan diri sendiri. Karena sesungguhnya musuh terbesar insan adalah dirinya sendiri. Berjuang menjadi benar untuk diri sendiri dan masyarakat. Jangan sampai negara hancur karena kontribusi kemalasan dari setiap individu masyarakat dalam berjuang melawan diri sendiri. Ketika seroang insan kalah berjuang melawan dirinya, maka moral insan takkan terjaga. Ketika kemalangan ini merata di seluruh penjuru suatu negeri, maka hancurlah negeri itu. Seluruh perjuangan adalah perjuangan bersama diri kita sendiri, dari diri kita sendiri, oleh diri kita sendiri, dan untuk diri kita sendiri.

Tujuan insan adalah untuk berdaulat di atas koridor pedoman yang diberikan oleh Sang Pencipta, yakni Allah. Aristoteles menyatakan bahwa tugas manusia adalah memanusiakan manusia. Menurut (Kierkegaard, filusuf dan teolog pengkritik logika Hegel) menyatakan kemanusiaan seseorang lahir dari kesadarannya akan tanggung jawab individual, terutama tanggung jawabnya kepada Tuhan, dan menyatakan bahwa kedekatan dan keterikatan dengan Tuhanlah yang mampu memanusiakan manusia. Maka, teruntuk kita masyarakat Indonesia, marilah kita menjadi manusia yang memanusiakan manusia untuk berkontribusi dalam mendukung semakin kuatnya Indonesia dan mencegah hancurnya negeri kita ini. Mari memahami hakikat hidup melalui pesan dari langit dalam Adz Dzariyat ayat 56.


Rujukan Utama:
Muqaddimah- Ibnu Khaldun

Comments