Kata
modernitas pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita semua, apalagi sekarang
kita sudah ada di zaman di mana seluruh informasi dari seluruh dunia dapat
terakses dengan mudah, kapan pun dan dimana pun. Modernitas, suatu kata yang
kadang memang membuat orang merasa enggan untuk menerimanya dan tak sedikit
juga yang menginginkannya. Sebuah realita yang mau tidak mau kita sebagai
bangsa Indonesia juga harus menerimanya. Terkadang kaum sekuler merasa bahwa
modernitas itu tak perlu, di sisi lain kaum liberal merasa bahwa modernitas itu
adalah sesuatu yang harus dijunjung tinggi.
Melihat
realita yang ada, ternyata memang benar yang dikatakan dalam Islam bahwa kita
jangan terlalu berlebihan akan sesuatu hal. Terkadang orang salah mengartikan
segala sesuatu yang kemudian kesalahan inilah yang menimbulkan konflik
tersendiri. Seperti halnya kita tahu bahwa ada yang disebut dengan kaum Islam
Radikal. Radikal secara bahasa artinya adalah sesuatu yang sangat mendasar
sampai kepada hal prinsip. Seiring perkembangannya, radikal ini memang masih
menjadi sesuatu yang mendasar, dalam ilmu filsafat dikenal suatu teori bernama
homonimitas, dimana sebuah bahasa memiliki dua makna yakni makna secara teknis
dan makna yang secara harfiah diterima oleh masyarakat. Sama halnya dengan
radikal, saat ini masyarakat umum ketika mendengar kata radikal menjadi sesuatu
yang dianggap sangat keras dan cenderung negatif.
Makna
radikal sesungguhnya adalah sesuatu yang mendasar, maka menjadi sesuatu
keharusan jika ‘Islam’ meradikal di dalam jiwa seorang umat Islam. Ajaran Islam
yang meradikal di dalam jiwa seseorang akan membawa dampak positif bagi orang
tersebut, berbeda dengan orang yang keislaman di dalam jiwanya tidak meradikal,
tetapi justru malah sikapnya yang radikal katanya karena Islam, padahal jelas
Islam tidak mengajarkan tindakan radikal yang membawa dampak negatif. Akhirnya
dalam hal ini siapa yang disalahkan? Pasti Islam kan? Padahal nyatanya tindakan
orang yang tidak memiliki keradikalan Islam dalam jiwa itulah yang bertindak
secara radikal. Jadi bukan Islamnya yang radikal dan kemudian membawa dampak
negatif, tetapi tindakan orangnya yang membawa dampak negatif.
Lalu
apa hubungannya dengan modernitas yang dibahas di awal? Tentu ada hubungannya.
Masa Orde Baru merupakan masa dimana citra yang ditampilkan oleh pemerintah
adalah melakukan Pembangunan, seperti PELITA misalnya. Pembangunan ini tentu
saja tidak terlepas dari segi modernitas di Indonesia. Isu modernisasi pada
masa itu telah menimbulkan persoalan di kalangan umat Islam, terutama berkaitan
dengan pemahaman umat terhadap ajaran Islam. Deliar Noer yang merupakan seorang
intelektual-modernis muslim dalam sebuah tulisannya yang berjudul “Umat Islam
dan Masalah Modernisasi” ia berpendapat bahwa modernisasi sesungguhnya tidak
akan menimbulkan suatu problem teologis, sebab menurutnya inti modernisasi
adalah sesuai dengan ajaran sosial Islam. Respon lain adalah dari Oemar Hashem,
menurutnya modernisasi memiliki potensi untuk termasuki unsur-unsur yang berasal
dari semangat kebudayaan Barat.
Modernitas
atau modernisasi biasanya diidentikkan dengan westernisasi atau pembaratan. Hal
inilah yang cenderung membawa konflik dan ketidaksetujuan umat Islam yang
mungkin –radikal- terhadap modernisasi. Padahal sebenarnya merupakan suatu
keharusan jika Islam melakukan modernisasi, karena modernisasi sebenarnya
merupakan proses terhadap kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Sehingga,
hal ini akan membawa kemajuan pula bagi Islam itu sendiri. Memang menjadi suatu
hal yang wajar jika yang ditakutan adalah westernisasi, namun sebenarnya sikap
dan tindakan kita lah yang menentukan keberhasilan modernisasi itu sendiri.
Modernisasi merupakan sesuatu yang sangat diperlukan, namun kita bisa memilah-milih
mana yang tepat dan mana yang terlalu berlebihan dan tidak boleh diikuti.
Pedoman
hidup bagi umat Islam adalah Al-Qur’an, maka seperti yang diketahui bahwa Al
Qur’an selalu sesuai dengan perkembangan zaman, seberkembang apapun zaman Al
Qur’an akan selalu sesuai dengan zaman tersebut. Al Qur’an saja sesuai
perkembangan zaman, apa salahnya kita sebagai umat Islam tetap mengikuti
perkembangan zaman dengan tetap berpedoman kepada Al Qur’an sebagai pegangan
agar tidak terjadi modernisasi berlebihan yang memberikan dampak westernisasi
yang berlebihan. Westernisasi boleh saja, tetapi harus tetap mampu memilih mana
yang sesuai dan tidak. Seperti misalnya perkembangan tekonolgi dan ilmu
pengetahuan, jelas kita sebagai umat Islam juga membutuhkannya. Sedangkan
dengan hal budaya barat yang tidak sesuai, barulah kita jangan mencontohnya.
Sehingga modernisasi itu dinilai penting yang kemudian dampaknya adalah
tergantung kemampuan setiap individu manusia yang menerima, maka jadilah
individu yang cerdas dalam memilih.
Referensi : Chaidar, Al.
2000. Serial Musuh-Musuh Darul Islam:
Sepak Terjang KW 9 Abu Toto Menyelewengkan NKA-NII Pasca S.M Kartosuwiryo.
Madani Press.
Taqi, Muhammad. 2003. Buku Dasar Filsafat Islam. Bandung :
Penerbit Mizan

apa tanggapan anda mengenai sekulerisme dalam setiap aspek kehidupan di dunia modern ?
ReplyDeletekalau tanggapan pribadi saya, bisa dibilang saya tidak pro terhadap sekulerisme. Alasannya kenapa? soalnya kalau kata Aristotels mah ya dia pernah ngomong katanya tugas manusia itu memanusiakan manusia, nah terus kata kierkegaard katanya kemanusiaan seseorang itu lahir karena kesadarannya pada tanggung jawab individual terutama tanggung jawab ke Tuhan, nah kata dia lagi, keterikatan sama Tuhan itulah yang bisa memanusiakan manusia.
ReplyDeleteSimple nya, sekulerisme dalam setiap aspek kehidupan di dunia modern menurutku bisa memicu "kekacauan" sih
Apa yang anda maksud dengan memanusiakan manusia? Apa hakekat nya hubungan manusia dengan Tuhan?
ReplyDelete