Modernitas dan Islam

Source : http://respectwomen.co.in/wp-content/uploads/2015/07/modernity-quotes.jpg

Kata modernitas pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita semua, apalagi sekarang kita sudah ada di zaman di mana seluruh informasi dari seluruh dunia dapat terakses dengan mudah, kapan pun dan dimana pun. Modernitas, suatu kata yang kadang memang membuat orang merasa enggan untuk menerimanya dan tak sedikit juga yang menginginkannya. Sebuah realita yang mau tidak mau kita sebagai bangsa Indonesia juga harus menerimanya. Terkadang kaum sekuler merasa bahwa modernitas itu tak perlu, di sisi lain kaum liberal merasa bahwa modernitas itu adalah sesuatu yang harus dijunjung tinggi.
Melihat realita yang ada, ternyata memang benar yang dikatakan dalam Islam bahwa kita jangan terlalu berlebihan akan sesuatu hal. Terkadang orang salah mengartikan segala sesuatu yang kemudian kesalahan inilah yang menimbulkan konflik tersendiri. Seperti halnya kita tahu bahwa ada yang disebut dengan kaum Islam Radikal. Radikal secara bahasa artinya adalah sesuatu yang sangat mendasar sampai kepada hal prinsip. Seiring perkembangannya, radikal ini memang masih menjadi sesuatu yang mendasar, dalam ilmu filsafat dikenal suatu teori bernama homonimitas, dimana sebuah bahasa memiliki dua makna yakni makna secara teknis dan makna yang secara harfiah diterima oleh masyarakat. Sama halnya dengan radikal, saat ini masyarakat umum ketika mendengar kata radikal menjadi sesuatu yang dianggap sangat keras dan cenderung negatif.
Makna radikal sesungguhnya adalah sesuatu yang mendasar, maka menjadi sesuatu keharusan jika ‘Islam’ meradikal di dalam jiwa seorang umat Islam. Ajaran Islam yang meradikal di dalam jiwa seseorang akan membawa dampak positif bagi orang tersebut, berbeda dengan orang yang keislaman di dalam jiwanya tidak meradikal, tetapi justru malah sikapnya yang radikal katanya karena Islam, padahal jelas Islam tidak mengajarkan tindakan radikal yang membawa dampak negatif. Akhirnya dalam hal ini siapa yang disalahkan? Pasti Islam kan? Padahal nyatanya tindakan orang yang tidak memiliki keradikalan Islam dalam jiwa itulah yang bertindak secara radikal. Jadi bukan Islamnya yang radikal dan kemudian membawa dampak negatif, tetapi tindakan orangnya yang membawa dampak negatif.
Lalu apa hubungannya dengan modernitas yang dibahas di awal? Tentu ada hubungannya. Masa Orde Baru merupakan masa dimana citra yang ditampilkan oleh pemerintah adalah melakukan Pembangunan, seperti PELITA misalnya. Pembangunan ini tentu saja tidak terlepas dari segi modernitas di Indonesia. Isu modernisasi pada masa itu telah menimbulkan persoalan di kalangan umat Islam, terutama berkaitan dengan pemahaman umat terhadap ajaran Islam. Deliar Noer yang merupakan seorang intelektual-modernis muslim dalam sebuah tulisannya yang berjudul “Umat Islam dan Masalah Modernisasi” ia berpendapat bahwa modernisasi sesungguhnya tidak akan menimbulkan suatu problem teologis, sebab menurutnya inti modernisasi adalah sesuai dengan ajaran sosial Islam. Respon lain adalah dari Oemar Hashem, menurutnya modernisasi memiliki potensi untuk termasuki unsur-unsur yang berasal dari semangat kebudayaan Barat.
Modernitas atau modernisasi biasanya diidentikkan dengan westernisasi atau pembaratan. Hal inilah yang cenderung membawa konflik dan ketidaksetujuan umat Islam yang mungkin –radikal- terhadap modernisasi. Padahal sebenarnya merupakan suatu keharusan jika Islam melakukan modernisasi, karena modernisasi sebenarnya merupakan proses terhadap kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Sehingga, hal ini akan membawa kemajuan pula bagi Islam itu sendiri. Memang menjadi suatu hal yang wajar jika yang ditakutan adalah westernisasi, namun sebenarnya sikap dan tindakan kita lah yang menentukan keberhasilan modernisasi itu sendiri. Modernisasi merupakan sesuatu yang sangat diperlukan, namun kita bisa memilah-milih mana yang tepat dan mana yang terlalu berlebihan dan tidak boleh diikuti.
Pedoman hidup bagi umat Islam adalah Al-Qur’an, maka seperti yang diketahui bahwa Al Qur’an selalu sesuai dengan perkembangan zaman, seberkembang apapun zaman Al Qur’an akan selalu sesuai dengan zaman tersebut. Al Qur’an saja sesuai perkembangan zaman, apa salahnya kita sebagai umat Islam tetap mengikuti perkembangan zaman dengan tetap berpedoman kepada Al Qur’an sebagai pegangan agar tidak terjadi modernisasi berlebihan yang memberikan dampak westernisasi yang berlebihan. Westernisasi boleh saja, tetapi harus tetap mampu memilih mana yang sesuai dan tidak. Seperti misalnya perkembangan tekonolgi dan ilmu pengetahuan, jelas kita sebagai umat Islam juga membutuhkannya. Sedangkan dengan hal budaya barat yang tidak sesuai, barulah kita jangan mencontohnya. Sehingga modernisasi itu dinilai penting yang kemudian dampaknya adalah tergantung kemampuan setiap individu manusia yang menerima, maka jadilah individu yang cerdas dalam memilih. 




Referensi : Chaidar, Al. 2000. Serial Musuh-Musuh Darul Islam: Sepak Terjang KW 9 Abu Toto Menyelewengkan NKA-NII Pasca S.M Kartosuwiryo. Madani Press.
                 Taqi, Muhammad. 2003. Buku Dasar Filsafat Islam. Bandung : Penerbit Mizan


Comments

  1. apa tanggapan anda mengenai sekulerisme dalam setiap aspek kehidupan di dunia modern ?

    ReplyDelete
  2. kalau tanggapan pribadi saya, bisa dibilang saya tidak pro terhadap sekulerisme. Alasannya kenapa? soalnya kalau kata Aristotels mah ya dia pernah ngomong katanya tugas manusia itu memanusiakan manusia, nah terus kata kierkegaard katanya kemanusiaan seseorang itu lahir karena kesadarannya pada tanggung jawab individual terutama tanggung jawab ke Tuhan, nah kata dia lagi, keterikatan sama Tuhan itulah yang bisa memanusiakan manusia.

    Simple nya, sekulerisme dalam setiap aspek kehidupan di dunia modern menurutku bisa memicu "kekacauan" sih

    ReplyDelete
  3. Apa yang anda maksud dengan memanusiakan manusia? Apa hakekat nya hubungan manusia dengan Tuhan?

    ReplyDelete

Post a Comment